Tokoh Muhammadiyah: Banyak Berita Tentang Iran dan Syiah Tidak Sesuai Fakta

SHARE:

Tokoh Muhammadiyah: Banyak Berita Tentang Iran dan Syiah Tidak Sesuai Fakta
Tokoh Muhammadiyah Sulawesi Selatan DR. Abdurrahim Razak, M.Pd seusai Bincang Sore dan Temu Kader Muhammadiyah Mesir di Kairo pada Sabtu (9/9)
NU dan Muhammadiyah: Pembubaran Ormas Dibolehkan Jika Mengancam Pancasila
Serangan AS ke Suriah Picu Ekstremisme dan Terorisme

KAIRO, SUARADEWAN.com – Tokoh Muhammadiyah Sulawesi Selatan DR. Abdurrahim Razak, M.Pd menilai banyak berita tentang Iran dan Syiah yang tersebar di tanah air tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

Hal itu disampaikan oleh Abdurrahim Razak dalam Bincang Sore dan Temu Kader Muhammadiyah Mesir di Kairo pada Sabtu (9/9) lalu dengan tema “Iran dan Syiah: Antara Berita dan Fakta”.

“Muhammadiyah sampai saat ini tidak pernah memutuskan lewat Majelis Tarjih bahwa Syiah adalah sesat dan kafir, baik dari KH. Ahmad Dahlan hingga Din Syamsuddin. Yang ada adalah person warga Muhammadiyah yang kadang mengatasnamakan Muhammadiyah.”

Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar ini berkesempatan menjadi pembicara dalam acara yang diadakan Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muhammadiyah Mesir di Markas Dakwah PCIM di kota Kairo Mesir. Menurut dia banyak berita hoax yang tersebar di tanah air mengenai Iran dan Syiah yang tidak sesuai fakta yang dilihatnya saat mengunjungi beberapa kota besar di negeri para Mullah itu.

“Saya melakukan kunjungan akademik ke Iran pada tahun 2011. Selama kurang lebih sebulan untuk mengikuti short course untuk penelitian mengenai Tafsir al-Mizan. Saya mengunjungi sejumlah kota besar di Iran, seperti Teheran, Qom, Masyhad dan Esfahan. Banyak fakta yang saya temukan yang justru berbeda dengan banyak informasi yang tersebar sebelumnya di tanah air mengenai Iran dan Syiah, terutama sejumlah tuduhan tendensius dari beberapa dosen Universitas di Makassar maupun dari cerita salah seorang dosen Arab Saudi dalam lawatannya ke Makassar,” tutur Abdurrahim seperti dilansir kantor berita ABNA.

Lebih lanjut Abdulrahim menyampaikan di antara tuduhan tersebut adalah adanya surah yang telah diubah, atau tuduhan mengenai Iran memiliki Alquran 40 juz. Itu semua adalah fitnah. Sebab kenyataannya tidak seperti itu. Syiah sering dituding mengkafirkan khalifah selain Sayidina Ali,

“Saya temukan tidak seperti itu. Saya selama hampir sebulan turut salat berjamaah dan mendengarkan ceramah-ceramah mereka di masjid, termasuk khutbah Jumat, dan tidak ada ungkapan celaan sedikitpun pada ketiga khalifah,” imbuhnya.

DR. Abdurrahim Razak lebih lanjut menambahkan, bahwa Fitnah yang paling sering diulang-ulang mengenai Iran dan Syiah adalah di kota Qom ‘kotor’ dengan aborsi, karena praktik Mut’ah. Ternyata faktanya, sekadar untuk berbicara dengan perempuan Iran di Qom saja, tidak bisa (sulit).

“Naik bus umum saja, tempat duduk penumpang laki-laki dan perempuan terpisah. Dan tidak ada satu orang perempuan dewasa di Qom yang tidak mengenakan jilbab. Bahkan saya menilainya, apa yang saya lihat di kota Qom justru lebih Islami dari Indonesia.”

Abdulrahim juga turut mengomentari mengenai buku yang diterbitkan MUI tentang mewaspadai Syiah ataupun fatwa MUI Jatim mengenai kekafiran Syiah.

“Buku tersebut adalah inisiatif sejumlah pengurus MUI dan bukan resmi dikeluarkan oleh MUI Pusat. Peristiwa pengusiran warga Syiah di Sampang itu juga kasus pribadi, lalu membawa-bawa urusan mazhab dengan intrik politik yang sangat kental. Sudah cukup bagi kita Deklarasi Ulama Islam se-Dunia di kota Amman Yordania bahwa Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah yang berkembang di Iran diakui dunia Islam.”

Merebaknya isu-isu ikhtilaf khususnya antara Sunni dan Syiah yang belakangan ini berkembang, menurut Abdulrahim sedikit banyaknya merupakan efek konflik di Timur Tengah yang makin memanas. Amerika Serikat dan gerakan Zionis Internasional mengambil keuntungan dari perseteruan dan perpecahan di tubuh umat Islam.

“Lihat saja, ketika kita sesama Muslim sibuk saling mengkafirkan, nasib Palestina menjadi terabaikan. Sekarang ditambah lagi dengan keterzaliman yang dialami Muslim Rohignya di Myanmar. Persatuan Islam adalah kekuatan dan senjata besar. Itu yang ditakuti musuh-musuh Islam.” Tutup alumni Darul Arqam Gombara Makassar tersebut.

Turut menyampaikan materi diskusi dalam Bincang Sore dan Temu Kader Muhammadiyah Mesir tersebut, DR. Zamzam Nur Huda, M.Hum aktivis Muhammadiyah dari Universitas Pamulang Tangerang yang membawakan materi “Dunia Akademisi di Indonesia dan Peluang Beasiswa”.

Disebutkan kedatangan kedua tokoh Muhammadiyah tersebut ke Kairo Mesir merupakan program Menristek SDM DIKTI untuk pengembangan dosen dan tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Umum Negeri dan Swasta khususnya untuk dosen Pendidikan Agama Islam.

Bersama dalam rombongan 17 dosen mewakili 12 Perguruan Tinggi Umum Negeri dan Swasta di antaranya dari UNISMUH Makassar 2 orang, ITB 2 orang, UPI Bandung 4 orang, UNI Malang 2 orang, UIN Jambi, Unesa Bandung, Al-Azhar Jakarta dan Surabaya, UII Jogja, UIM Malang masing-masing 1 orang, yang kesemuanya bertitel doktor.

Program tersebut berlangsung selama satu bulan dari tanggal 17 Agustus sampai 18 September 2017. Selain mengikuti short course, delegasi para dosen juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah di kota Kairo seperti di Matrusiwa, gunung Sinai tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyu, ziarah ke makam Sayid Ahmad Mutawally Sya’rawy ulama Mesir dari silsilah Ahlulbait dan tempat bersejarah lainnya. (Sumber: Kantor berita ABNA)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow