Sidang PK Lanjutan, Anas Urbaningrum Minta Vonis 14 Tahun Penjara Dikoreksi Demi Keadilan

SHARE:

Sidang PK Lanjutan, Anas Urbaningrum Minta Vonis 14 Tahun Penjara Dikoreksi Demi Keadilan
Narapidana kasus korupsi Anas Urbaningrum kembali menjalani persidangan lanjutan Peninjauan Kembali (PK) pada Jum'at (8/6) di Pengadilan Tipikor Jakarta.
Ini Saran Menkominfo soal Cara Tangkal Virus Ransomware Petya
Puluhan Tahun Menikah 11 Seleb Ini Makin Awet dan Jauh Dari Gosip
Diskusi Publik: Menimbang Dampak Perppu Ormas

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Narapidana kasus korupsi Anas Urbaningrum kembali menjalani persidangan lanjutan Peninjauan Kembali (PK) pada Jum’at (8/6) di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Anas berharap putusan vonis 14 tahun penjara yang dijatuhkan oleh mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar pada tahun 2015 lalu dikoreksi sesuai novum yang dihadirkan dalam dua sidang Peninjauan Kembali demi tegaknya keadilan bagi dirinya.

“Keputusan ini perlu dikoreksi demi keadilan, bukan demi apa-apa, karena hukum mahkotanya adalah keadilan, hukum baru tegak kalau berlandaskan keadilan, kalau hukum ditegakkan secara menyala-nyala nanti jadinya berdarah-darah, bukan diketok untuk keadilan,” kata Anas.

Anas mengaku yakin PK nya akan dikabulkan, sebab seluruh novum atau barang bukti baru sudah diajukan. Dalam sidang ketiga ini, dihadirkan saksi fakta, Teuku Bagus M Nuh yang merupakan mantan Direktur Operasional PT. Wika.

Dalam persidangan, Teuku mengaku tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan Anas sampai dengan disidangkan perkara. Ia juga tidak pernah memberi uang berapa pun atau apa pun kepada Anas termasuk pemberian mobil Toyota Harrier. Selain itu ia juga mengaku tidak pernah memberi Anas dalam rangka Kongres Partai Demokrat. Tetapi, ia memberi kepada Munadi Herlambang.

Baca juga  Beda Anas Urbaningrum dan Nazaruddin Soal Remisi Khusus Idul Fitri

“Keterangan itu dijadikan landasan menjerat saya, oleh karena itu saya tanyakan kepada saksi ahli tadi, alhamdulillah semua terbuka di persidangan ini,” tegas Anas.

Selain Teuku, dalam sidang tersebut juga dibacakan testimoni eks anak buah Nazaruddin yang tidak berkesempatan hadir, dalam testimoninya Marisi Matondang mengaku kalau semua kesaksiannya yang memberatkan mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum sebagai rekasaya belaka.

Kemudian persidangan juga menghadirkan Dr Suparji SH, MH yang merupakan dosen Fakultas Hukum di Universitas Al-Azhar Indonesia sebagai saksi ahli, dalam kesempatan tersebut Anas sempat menanyakan kepada saksi ahli apakah boleh keterangan yang tidak benar alias hoax digunakan sebagai dasar menyatakan putusan.

Suparji mengatakan keterangan yang tidak benar tidak diperkenankan masuk dalam fakta persidangan sehingga bisa diperkarakan pada sidang yang lain karena ada indikasi penipuan.

Baca juga  Tak Cukup di Hambalang, Anas Kembali Dihantam Lewat e-KTP

Dalam sidang PK ini, Anas meyakini menjadi korban atas kepentingan politik pihak tertentu. Di dalam memori PK nya, Anas mengklaim sebagai korban dari kesewenang-wenangan kekuasaan yang tidak memperoleh keadilan. Kasus yang tengah ia hadapi pun disebut sarat dengan muatan politis yang dilakukan oleh rezim yang berkuasa saat itu. Pada periode kasus Anas diperiksa, saat itu Presiden SBY lah yang tengah berkuasa.

Aroma politik, menurut Anas, sudah sangat kental. Indikator awalnya yakni bocornya dokumen KPK yang diduga adalah Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (Sprindik) atas nama Anas ke publik.

Anas divonis 8 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta dari tuntutan KPK selama 15 tahun penjara. Ia divonis lantaran terlibat kasus korupsi P3SON Hambalang. Vonis tersebut berkurang satu tahun yaitu menjadi 7 tahun saat Anas banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta.

Namun, saat kasasi ke Mahkamah Agung (MA), vonis Anas malah diperberat menjadi 14 tahun. Pada waktu itu, Juni 2015, Anas sudah memutuskan mengajukan Peninjauan Kembali (PK). (sd)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS