WP-MagOne-728x90

Ribuan Hektare Lahan Tebu Di Cirebon Terbengkalai, Petani Tak Miliki Modal Menanam

SHARE:

Ribuan Hektare Lahan Tebu Di Cirebon Terbengkalai, Petani Tak Miliki Modal Menanam
Petani Tebu di Cirebon
Pembangunan Pertanian Cenderung Kejar Target Politis
Income Petani Akan Naik Jika 4 Juta Hektare Lahan Tidur di Benahi

CIREBON, SUARADEWAN.com — Ribuan hektare lahan tanaman tebu milik petani di Kabupaten Cirebon hingga kini masih terabaikan. Lahan tersebut belum diolah sebagaimana mestinya karena petani tidak memiliki modal akibat belum lakunya gula.

“Ada sekitar 2.000 hektare lahan tebu yang musim tanamnya saat ini terbengkalai,” kata Wakil Ketua DPD Andalan Petani Tebu Rakyat (APTRI) Jabar, Mae Azhar, Rabu (4/10).

Mae menyebutkan, lahan tanaman tebu yang saat ini masih terbengkalai itu di antaranya tersebar di Kecamatan Sindanglaut, Astanajapura, Pangenan, dan Greged. Seharusnya, ribuan hektare lahan di daerah-daerah tersebut sudah memasuki proses dampas, yakni memotong bagian tanaman tebu/diratakan dengan tanah agar tumbuhnya bagus.

Menurut Mae, para petani tebu saat ini tidak memiliki modal untuk membiayai musim tanam tersebut. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka terpaksa harus berutang.

“Petani harus pinjam kanan kiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” tutur Mae.

Baca juga:

Mae menyebutkan, modal yang dibutuhkan petani tebu untuk tris I, atau modal awal untuk benih dan sebagainya sekitar Rp 25 juta. Sedangkan modal untuk pemeliharaan atau tris II sekitar Rp 17 juta.

Mae mengatakan, modal tanam pada tahun ini seharusnya diperoleh dari hasil tanam tahun lalu. Namun, dari hasil tanam tahun lalu itu, petani belum bisa menikmatinya karena gula milik mereka hingga kini belum terjual.

Dalam kesempatan terpisah, salah seorang petani tebu dari Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Dulsalam, membenarkan sulitnya para petani tebu memperoleh modal saat ini.

“Saya sudah menanam tebu selama 32 tahun. Tapi baru tahun ini benar-benar terpuruk,” kata Dulsalam

Dulsalam termasuk petani yang melakukan tebang (panen) pada Juni 2017. Setelah tebang, lahan tebu harus kembali digarap. Modal untuk menggarap itulah yang tak dimilikinya sehingga harus berutang.

“Saya ini sekarang abis-abisan. Sampe harus ngutang kanan kiri, ke tetangga dan saudara untuk biaya tanam, ” ujar Dulsalam. (REP)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow