Pemilu Malaysia: Mengapa Mahathir Berjaya, Najib Tumbang?

SHARE:

Pemilu Malaysia: Mengapa Mahathir Berjaya, Najib Tumbang?
Mahathir Mohammad, Anwar Ibrahim, Wan Azizah
Lebanon Menggelar Pemilu Parlemen Pertama dalam Sembilan Tahun Terakhir
Tujuh Ribu Kandidat Berebut 329 Kursi Parlemen di Pemilu Irak Pertama Sejak Kekalahan ISIS
Parlemen Iran Puji Indonesia Sebagai Contoh Bagi Negara Islam

KUALA LUMPUR, SUARADEWAN.com — Hasil Pemilihan Umum/ Pemilu Malaysia edisi ke-14 yang rampung pada Kamis (10/5), memiliki beragam dimensi. Selain pelantikan Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri, kemenangan koalisi Pakatan Harapan (PH) juga mengakhiri kejayaan Barisan Nasional (BN) yang sudah berusia enam dekade alias 60 tahun.

Berdasarkan hasil pemilihan umum yang dipublikasikan Komisi Pemilihan Umum Malaysia via laman resminya, koalisi itu mengamankan mayoritas kursi parlemen setelah meraih 113 kursi dari total 222 kursi. Sementara BN memperoleh 79 kursi, The Malaysian Islamic Party (PAS) 18 kursi, Warisan delapan kursi. Kemudian Independents meraih tiga kursi dan satu kursi lainnya didapat Parti Solidariti Tanah Airku (STAR).

Dengan demikian, PH dapat membentuk pemerintahan baru. Sebab, koalisi tersebut plus Warisan telah melampaui batas 112 kursi yang dibutuhkan untuk mayoritas. Berdasarkan hasil pemilihan, oposisi menang di delapan negara bagian, yaitu Johor, Selangor, Kelantan, Terangganu, Penang, Negeri Sembilan, Melaka, dan Kedah.

Baca juga  PDI Perjuangan: Kemenangan Mahathir adalah Kemenangan Narasi Politik Beradab

Ooi Kee Beng, direktur eksekutif Penang Institute, sebuah think thank yang didanai Pemerintah Negara Bagian Penang, menilai kekalahan koalisi BN tak lepas dari sosok pemimpin UMNO, Najib Razak. “Ia merupakan jantung dan jiwa koalisi,” ujar Ooi dalam analisisnya di Channel News Asia, kemarin.

Menurut Ooi, kesalahan Najib sudah tampak jauh sebelum menjadi PM pada 2009. Saat itu, dia diduga mengudeta Abdullah Badawi. Masa jabatan Najib pun terus terganggu oleh sejumlah skandal serius, seperti pembunuhan model Mongolia Altantuya Shaariibuu dan kasus korupsi 1MDB yang diselidiki Amerika Serikat (AS), Swiss, dan Singapura.

Hasil Pemilihan Umum 2013 juga menunjukkan ia gagal memenangkan suara Komunitas Tionghoa Malaysia. Menurut Ooi, setelah itu, Najib pun mengincar elemen yang lebih ekstrem di antara Melayu dan Islamis. “Modus operandi itu tampaknya berhasil dan menyebabkan Pakatan Rakyat kalah. Namun, proses manipulasi politik tanpa akhir itu telah membawa pemain baru tapi lama, yaitu Mahathir,” katanya.

Baca juga  Jabat Tangan Dengan Bukan Muhrim, Anggota Parlemen Ini Dipecat

Ooi menuturkan, Mahathir yang kembali dari masa pensiun, kembali dengan ‘peralatan perang lengkap’ disertai tekad kuat menyingkirkan Najib dan membawanya ke pengadilan akibat kasus korupsi. Tekad itu tergambar dalam hasil pemilihan umum yang disampaikan KPU.

“Tidak diragukan lagi, Mahathir adalah striker paling efektif yang pernah ada. Dia tidak pernah bermain untuk kalah,” kata Ooi mengibaratkan Mahathir layaknya Pele dalam perpolitikan Malaysia.

Dalam peta perpolitikan Malaysia, Muslim Melayu telah lama cenderung mendukung kebijakan afirmatif BN yang menawarkan mereka kontrak pemerintah, perumahan murah, dan jaminan penerimaan universitas. Koalisi PH, yang mengandalkan suara dan dukungan dari minoritas etnis Cina dan masyarakat India, berharap pemimpin Melayu veteran itu dapat menang atas pendukung setia BN.

Strategi itu telah berhasil. “Telah ada perubahan signifikan dalam suara etnis Melayu,” kata Rashaad Ali, analis dari Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam di Singapura.

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS