WP-MagOne-728x90

Pelaku Kriminal Usia Anak Terus Meningkat, KPA: Orang Tua Harus Lebih Ekstra Perhatian

SHARE:

Pelaku Kriminal Usia Anak Terus Meningkat, KPA: Orang Tua Harus Lebih Ekstra Perhatian
Arif Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak
Dagang Cobek ke Polres Tangsel, Cobek Tajudin Tidak Dibeli
KPAI: Anak Harus Dilindungi Dari Pornografi, Radikalisme Dan Kejahatan Berbasis Dunia Maya

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Peristiwa kriminal yang melibatkan pelaku berusia anak terus meningkat, oleh Komnas Perlindungan Anak haruslah menjadi perhatian dan refleksi bagi orangtua dan keluarga Indonesia, Komnas juga meminta kepada aparat agar pelaku ditindak dengan mengedepankan prinsip-prinsip dari UU SPPA dan UU No 35 Tahun 2014.

“Orang tua harus memberikan ekstra perhatian bagi perkembangan perilaku anak dan menjadi introspeksi diri terhadap peran orang tua sebagai imam dan contoh bagi anak untuk menerima nilai-nilai kebaikan dalam lingkup sosial bermasyarakat,” ujar Arif Merdeka Sirait Ketua Komnas Perlindungan Anak, Selasa (11/07/2017) di Jakarta.

Dua kejadian dalam rentang waktu yang tidak begitu lama melibatkan anak sebagai pelaku tindak pidana pembunuhan terjadi di Tasikmalaya dan Denpasar. Di Tasikmalaya seorang anak berinisial AW (15 tahun) menggorok leher korbannya setelah melakukan kejahatan seksual terhadap dua anak usia 7 dan 11 tahun anak tetangganya di Tasikmalaya, Jawa Barat (30 Juni 2017).

Di Denpasar Prada TNI Januar Setiawan menjadi korban penusukan oleh anak DK (16), Setiawan (20) anggota TNI yang sedang menjalani pendidikan Militer di Pulaki, Buleleng Bali terpaksa meregang nyawa setelah ditusuk DKDA (16) bersama 3 orang temannya masing terduga CI (17), RA (19) FC (22) dengan sebilah pisau sejenis sangkur pada Minggu dini hari 09 Juli 2017 di Jl Ngurah Raih, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung Bali.

Satu jam setelah peristiwa penusukan anggota TNI yang sedang berlibur dinas pendidikan di Denpasar,  atas kerja cepat aparat Polresta Denpasar telah memeriksa 11 terduga pelaku dan menetapkan DKDA (16) siswa SMA di Denpasar sebagai pelaku utama.

Disampaikan oleh Arif Merdeka Sirait, demi ketentraman masyarakat Bali dan tidak terjadi mis-komunikasi atas peristiwa penusukan anggota TNI, Komisi Nasional Perlindungan Anak mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada bapak Mayjen Komarudin Simanjuntak selaku Pangdam Udayana yang telah memberikan respon dan pernyataan yang menyejukkan atas peristiwa penusukan anggota TNI itu dan memerintahkan kepada prajurit dan jajaran pimpinan TNI di pulau Dewata ini untuk mencari tahu latar belakang pelaku dan untuk tidak terpancing terhadap isu yang tidak sesuai dengan fakta.

Arif Merdeka Sirait mengatakan, Mengingat peristiwa penusukan ini melibatkan 2 orang usia anak, dan sesuai pula dengan ketentuan UU No. 11 Tahun 2912 tentang Sistim Peradilan Pidana Anak (SPPA) dan UU No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU No. 23 Tahun 2002 mengenai  Perlindungan Anak,  Komnas Perlindungan Anak telah menerjunkan Quick Investigator Komnas Anak Tim Bali untuk membangun kerjasama investigasi dan pendampingan  terhadap terduga pelaku anak baik ditingkat penyidik Polri unit PPA dan mengapreasi peran dan gerak cepat P2TP2A Bali.

Mengingat pelakunya masih usia anak dan dengan  tidak mengurangi rasa keadilan bagi keluarga korban meninggal dan korban luka, Komnas Perlindungan Anak berharap pihak Kepolisian Polresta Denpasar dan aparatur penegak hukum lainnya dalam penanganan proses penegakan hukum bertindak mengedepankan prinsip-prinsip dari UU SPPA dan UU No 35 Tahun 2014.

“Saya mengapresiasi sikap dan peranan Pangdam Udayana dan jajarannya, Polresta Denpasar dan Quick Investigator Komnas Anak Tim Bali serta P2TP2A Bali  atas kerjasamanya,” tambah Arist Merdeka Sirait. (MOP)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow