MPR: Jangan Campur Adukkan Dakwah Politik Keummatan dengan Politik Praktis

SHARE:

MPR: Jangan Campur Adukkan Dakwah Politik Keummatan dengan Politik Praktis
Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah (Fraksi PDI Perjuangan) dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar yang dirangkai dengan Pelatihan Mubaligh Moderat di Hotel Tanjung, di Surabaya (12/5)
Hidayat Nur Wahid: Rakyat Bisa Memutus Lingkaran Setan Korupsi
Megawati Soekarnoputri Penentu Siapa Cawapres Jokowi
Ada Upaya Busuk Menuduh Amien Rais Korupsi

SURABAYA, SUARADEWAN.com – MPR RI dan Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur mengadakan kerjasama Sosialisasi Empat Pilar yang dirangkai dengan Pelatihan Mubaligh Moderat di Hotel Tanjung, di Surabaya. Peserta pelatihan berasal dari perwakilan 38 Cabang Pemuda Muhammadiyah se-Jawa Timur. (Sabtu, 12/5).

Acara dihadiri Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah. Dalam ceramahnya, Basarah mengatakan dakwah keumatan penting untuk dilakukan pemuka agama, apapun agamanya. Karena setiap agama pasti mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi umat dan bangsanya sendiri.

“Tetapi yang harus diingat adalah jangan sampai mempolitisasi ayat-ayat kitab suci hanya demi  tujuan politik praktis atau untuk merebut kekuasaan politik semata. Untuk itulah UU Pemilu dan UU Pilkada melarang politik praktis dilakukan di rumah-rumah ibadah,” kata Ahmad Basarah, (12/5).

Baca juga  Wakil Ketua MPR: Investasi Sumber Daya Manusia Mutlak Dilakukan

Basarah melanjutkan Dakwah politik disini adalah politik sebagaimana pernah dikatakan Gus Dur yakni sebagai sesuatu yang mulia karena memperjuangkan nasib orang banyak. Justru kalau orang-orang baik tidak mau berpolitik maka dunia politik akan dikuasai orang-orang jahat yang akan merusak negara.

“Namun, harus diingat dakwah politik disini adalah dakwah keumatan dan kebangsaan. Bukan politik praktis atau politik kekuasaan,” lanjutnya.

Menurutnya jika memang niatnya berdakwah untuk politik praktis, hendaknya tidak membohongi umat dengan menggunakan jubah atau dalil-dalil agama tetapi langsung saja bergabung dengan partai politik sehingga dapat secara leluasa menyampaikan sikap-sikap dan kepentingan politiknya. Politisasi agama hanya akan memecah belah persatuan bangsa jika yang menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya apalagi dengan menghalalkan segala cara seperti mempolitisasi isu SARA.

“Bagi saya, Islam terlalu mulia jadi janganlah direndahkan hanya menjadi alat untuk merebut kekuasaan politik praktis semata,” ujar Pendiri Baitul Muslimin Indonesia (BMI) itu.

Baca juga  Tidak Puas Hasil Sidang Ahok, Pemuda Muhammadiyah Bakal Laporkan Jaksa Agung dan JPU ke Komjak

Untuk itulah pelatihan Mubaligh Moderat Muhammadiyah yang dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Pemuda Muhamadiyah Jawa Timur ini menemukan relevansinya di tengah-tengah fenomena politisasi agama dalam Pilkada di Indonesia. Basarah mengharapkan agar dakwah yang diperjuangkan oleh kader-kader Pemuda Muhamadiyah akan bernuansa dakwah politik keumatan dan kebangsaan yang menyejukkan serta senantiasa memperkukuh ukhuwah Islamyah, Wathoniyah dan Basariah.

“Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, jika semua mubaligh menyiarkan kedamaian dan kesejukan maka citra Islam dan umat Islam Indonesia di mata umat beragama yang lain akan semakin simpatik. Hal itu tentu sangat baik bagi perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia internasional,” pungkas Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan ini. (gt)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS