Khabib Nurmagomedov, Petarung UFC yang Tak Gentar Dengan Islamofobia

SHARE:

Khabib Nurmagomedov, Petarung UFC yang Tak Gentar Dengan Islamofobia
Khabib Nurmagomedov
Cagub Rusmadi-Safaruddin Kembali Diberi Kepercayaan Atasi Banjir di Balikpapan
Komisi III: Para Napi Hukuman Mati Masih Kendalikan Bisnis Narkoba dari Lapas
KPK Tetapkan Wakil Ketua DPR dari PAN Tersangka Kasus Suap Bupati Kebumen
TGB Zainul Majdi: Bukan Suap, Uang Rp 1,1 Miliar Itu Saya Pinjam
Beda Versi Lembaga Survey, Rusmadi-Safaruddin Justru Unggul Versi KPU

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Duel Khabib Nurmagomedov versus Conor McGregor pada perebutan gelar juara dunia kelas ringan Ultimate Fighting Championship (UFC) ke-229 di T-Mobile Arena, Las Vegas, Ahad (7/10), sudah usai. Meskipun akhirnya berhasil mempertahankan gelarnya, tindakan Khabib yang melompat keluar ring dan membuat keributan cukup disayangkan. Ia melompat hendak ‘menghajar’ teman McGregor, Dillon Danis.

Beberapa jam setelah kejadian ini, Khabib akhirnya muncul ke media dan meminta maaf. Ia mengakui tindakannya tak pantas, tetapi punya alasan kuat untuk berbuat itu. Ia mengatakan, McGregor sudah melanggar batasan dengan mengejek ayahnya, negara asalnya, dan yang terpenting agamanya.

McGregor menawarinya minuman beralkohol saat konferensi pers yang ditolak Khabib secara baik-baik. Pria Irlandia itu pernah memanggil manajer Khabib, Ali Abdelaziz, seorang teroris. Provokasi berlanjut saat sesi foto bersama. Belum lagi tindakan McGregor yang menyerang bus Khabib dan rombongannya membuat beberapa awak timnya terluka pada April 2018 lalu. Akumulasi berbagai hal itu membuatnya marah.

Baca juga  Trump, Islamofobia, dan Benturan Peradaban

“Ini bukan olahraga sampah. Aku sudah memberi tahu kalian sebelumnya, aku ingin mengubah olahraga ini. Aku tidak ingin orang-orang berbicara tentang lawan, atau berbicara tentang ayahnya, seperti agama. Anda tidak dapat berbicara agama, Anda tidak dapat berbicara tentang bangsa–Anda tidak dapat berbicara tentang hal ini, ini sangat penting bagiku,” katanya dalam konferensi pers seusai pertarungan, dikutip dari Talksports, Senin (8/10).

“Terima kasih banyak, terima kasih sudah menungguku. Aku tahu ayahku akan menghajarku ketika aku pulang ke rumah,” lanjutnya.

Khabib adalah seorang Muslim yang cukup taat. Berasal dari Dagestan, Rusia, ia dibesarkan dalam keluarga Islam. Khabib lahir di desa terpencil Sildi, di Distrik Tsumadinsky, yang sekarang menjadi Dagestan modern. Menurut survei 2012 Proyek Arena, 83 persen responden dari Dagestan diidentifikasi sebagai Muslim.

Baca juga  Cara Meredam Islamofobia di Kanada Lewat Seni

Pria yang sering mengenakan papakha (topi bulu khas Rusia) tidak pernah lupa untuk mengucapkan “alhamdulillah” dalam berbagai kesempatan wawancara, sebelum atau setelah pertandingan. Ia selalu menekankan bahwa Allah selalu memberikannya kekuatan.

Beberapa tahun yang lalu, Khabib juga pernah melayangkan protesnya pada produsen video games EA Sports 2016 lalu. Dalam game UFC 2, karakter petarung Rusia itu dibuat melakukan selebrasi kemenangan dengan gerakan membentuk salib, yang dicirikan pada agama Kristen. Meskipun hanya dalam permainan, Khabib tetap mengecam kesalahan EA Sports tersebut.

“Saya adalah seorang Muslim dan tidak dibaptis. Tolong EA Sports perbaiki selebrasi setelah pertarungan saya. Saya memiliki banyak penggemar Muslim dan Anda harus menghormatinya,” tulis Khabib melalui akun Twitter miliknya pada 2016 lalu.

EA merespons dengan meminta maaf. Permohonan maaf ini diunggah Khabib di akun Instagram-nya, meyakinkan penggemarnya bahwa masalah tersebut sudah diatasi. (rep)

COMMENTS