Ketua DPR RI : Tetap Waspadai Perkembangan Fintech

SHARE:

Ketua DPR RI : Tetap Waspadai Perkembangan Fintech
12 Anggota DPR Pergantian Antar Waktu Diresmikan, Ini Daftarnya
Kehadiran Pimpinan KPK di Resepsi Pernikahan Anak Ketua DPR Dinilai Melanggar Kode Etik
Akuntabilitas dan Transparansi Anggota DPR lewat ‘Narsis Ria’ di Media Sosial
Di Depan Jokowi, Ketua DPR Janji Selesaikan RUU KUHP 17 Agustus
Indonesia Segera Miliki Pangkalan Militer Super Canggih di Natuna

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo atau yang sering dipanggil Bansoet menilai kehadiran financial technology (Fintech) sebagai sebuah inovasi yang lahir dari kemajuan teknologi informasi, selain dapat mendukung efisiensi perekonomian juga berpotensi menjadi sumber resiko. Karena itu, perkembangan Fintech yang semakin menjamur perlu diawasi secara agresif oleh Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Saat ini, dasar hukum penyelenggaraan Fintech dalam sistem pembayaran di Indonesia mengacu kepada berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh BI dan OJK. Kini sedang kaji lebih mendalam perihal perlunya undang-undang mengenai keuangan digital sebagaimana yang pernah disampaikan OJK. Jika memang dari sisi dunia usaha maupun BI dan OJK sebagai regulator memerlukan UU yang khusus mengatur tentang Fintech, DPR sangat terbuka menerima berbagai masukan,” ujar Bamsoet saapan akrabnya saat mengisi seminar “Peran Teknologi Informasi Finansial dalam Mendorong Inklusi Keuangan di Indonesia” yang diselenggarakan INDEF di Jakarta, Selasa (26/3).

Bansoet yang juga saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia memaparkan, berbagai peraturan tentang Fintech tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran, Surat Edaran Bank Indonesia No. 18/22/DKSP perihal Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital dan Peraturan Bank Indonesia No. 18/17/PBI/2016 tentang Uang Elektronik.

Baca juga  DPR Terima Wakil Aksi 212, Bambang Soesatyo: Masih Memiliki Hati Nurani

Dan juga Peraturan OJK No.77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (peer to peer landing), Peraturan OJK No.13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan, Peraturan OJK No.12/POJK.03/2018 tentang Penyelenggaraan Layanan Perbankan Digital oleh Bank Umum dan Peraturan OJK No.37/POJK.04/2018 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif Penyertaan Terbatas (equity crowdfunding).

Bansoet pun ingin memastikan DPR RI selalu menekankan kepada BI dan OJK sebagai mitra kerja Komisi XI DPR RI agar mewaspadai berbagai perkembangan Fintech. Mengingat banyaknya aduan yang datang dari masyarakat kepada DPR RI perihal keberadaan Fintech yang justru bukan membantu, malah meresahkan masyarakat. Antara lain, pelanggaran hukum pengambilan informasi pribadi, penyebaran data pribadi, masalah bunga pinjaman serta munculnya Fintech illegal.

“Kita apresiasi Satgas Waspada Investasi bentukan OJK yang telah menghentikan lebih dari 200 Fintech ilegal. Dalam berbagai rapat kerja dengan OJK, DPR RI melalui Komisi XI selalu mengingatkan OJK untuk mengetatkan pengawasan. Bila perlu jangan hanya sekadar ditutup izin operasinya, melainkan ambil langkah hukum terhadap Fintech illegal sehingga membuat efek jera,” jelas Bamsoet.

Baca juga  Ketua DPR: Akhiri Saling Ejek di Ruang Publik

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, dengan jumlah penduduk mencapai 265 juta jiwa, membuat potensi market Indonesia terhadap Fintech sangat besar sekali. Hasil riset Oliver Wyman, lembaga konsultan manajemen internasional, mencatat potensi pembiayaan Fintech di Indonesia mencapai USD 130 miliar.

“Saat ini, dasar hukum penyelenggaraan Fintech dalam sistem pembayaran di Indonesia mengacu kepada berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh BI dan OJK. Kini sedang kaji lebih mendalam perihal perlunya undang-undang mengenai keuangan digital sebagaimana yang pernah disampaikan OJK. Jika memang dari sisi dunia usaha maupun BI dan OJK sebagai regulator memerlukan UU yang khusus mengatur tentang Fintech, DPR sangat terbuka menerima berbagai masukan,” ujar Bamsoet saapan akrabnya saat mengisi seminar “Peran Teknologi Informasi Finansial dalam Mendorong Inklusi Keuangan di Indonesia” yang diselenggarakan INDEF di Jakarta, Selasa (26/3).

COMMENTS