Keluarga Korban Bom Kampung Melayu Ikuti Aksi Simpatik Bersatu Tolak Terorisme

SHARE:

Keluarga Korban Bom Kampung Melayu Ikuti Aksi Simpatik Bersatu Tolak Terorisme
Bersatu Melawan Teroris, Aksi Simpatik untuk Korban Bom Kampung Melayu
Kader Jadi Korban Bom, HMI Gelar Aksi Tabur Bunga

JAKARTA TIMUR, SUARADEWAN.com– Kenakan kostum merah, puluhan anggota Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) bersama sejumlah masyarakat simpatisan dan keluarga korban ledakan bom, berkumpul di Terminal Kampung Melayu, untuk menggelar aksi simpatik bersatu tolak terorisme, Pada Minggu (28/5).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 16.00 WIB tersebut, diwarnai dengan aksi peletakan bunga tangkai, tabur bunga, pembentangan spanduk bertuliskan kami tidak takut dan bersatu melawan teroris. Tidak hanya itu, sejumlah anggota PKPI dan keluarga korban pun menyanyikan sejumlah lagu milik, AM Hendropriyono yang berjudul kami tidak takut.

Penggagas aksi simpatik tolak terorisme, yang juga koreografer, pemeran dan penyanyi Indonesia Denny Malik mengatakan, sebagai seorang entertain turut prihatin atas kejadian tersebut. Ia pun mengaku sangat mengapresiasi atas kerjasama yang telah ditunjukkan oleh PKPI dan sejumlah keluarga korban.

“Melalui aksi ini, kami ingin memberikan perlawanan bahwa kita tidak takut dengan yang namanya teroris. Sebetulnya itu saja tujuan kami, dan siapapun yang ingin bergabung silahkan bergabung. Karena ini aksi manusiawi, dan kami berharap ini peristiwa yang terakhir kalinya,” kata Denny Malik, pada (28/5).

Ditempat yang sama, Trini (40) isteri Tasdik Saputra (42) didampingi putri dan sejumlah keluarganya yang lain mengaku, sangat mendukung aksi simpatik bersatu tolak terorisme tersebut. Mengingat kejadian tersebut telah menciderai sang suami dibagian tangan kanan, lengan bagian bawah mendapat 14 jahitan, kaki bagian betis kanan mendapat 10 jahitan karena kulitnya mengelupas.

“Kondisi suami saya sudah mulai membaik, hanya saja lengan sebelah kanannya masih terasa nyeri. Harapan saya semoga dengan adanya aksi ini pemerintah supaya diperketat lagi pengamanannya, dengan menyebar intel-intel itu saja. Karena kalau soal biaya pengobatan sudah ditanggung pemerintah,” ungkapnya.

Dijelaskan Trini, kejadian ledakan bom tersebut masih meninggalkan trauma tersendiri bagi sejumlah keluarga. Sehingga kemana pun ia dan pihak keluarga pergi, perasaan was-was terus ada.

“Takut sih tidak, cuma sekarang lebih was-was saja. Karena bagaimana pun juga saya masih ingat kejadian itu, dimana saya ditelefon polisi dan dikabarkan suami saya menjadi korban ledakan bom,” jelasnya.

Sebelumnya, ledakan bom tersebut, terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Rabu (24/5) malam. Ledakan pun terjadi sebanyak dua kali, pertama terjadi sekira pukul 21.00 WIB. Sedangkan ledakan kedua terjadi sekitar lima menit kemudian di lokasi yang sama, yang menewaskan lima korban jiwa dan 10 orang menderita luka cukup parah. (fn)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow