Kasus Penistaan Agama di Indonesia dari Masa ke Masa

SHARE:

Kasus Penistaan Agama di Indonesia dari Masa ke Masa
PK Ahok Terancam Dimentahkan Mahkamah Agung
Mahkamah Agung Tolak PK Kasus Penistaan Agama Ahok
Putra Jokowi Dilaporkan Ke Polisi Atas Kasus Penodaan Agama

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Merebaknya isu penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berhasil mengungkit kembali sejumlah kasus penistaan agama yang pernah terjadi di Indonesia.

Seperti diketahui, sejak diterbitkannya Penetapan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama oleh Presiden Soekarno tertanggal 27 Januari 1965, sejak itu pula kasus penistaan agama muncul dalam ranah hukum. Perpres ini kemudian menetapkan menambahkan pasal penistaan agama di dalam bab yang mengatur tentang ketertiban umum, Pasal 156 a KUHP.

Ya, banyak di antara pelaku yang diduga menistakan agama berakhir bui atau pidana penjara. Tapi ada juga yang berhasil bebas dari jerat hukum tersebut, bahkan adapula yang raib begitu saja tanpa proses penyelesaian secara berkelanjutan.

Guna mengetahui sejumlah kasus penistaan agama yang sudah terjadi puluhan tahun sebelum kasus Ahok ini, berikut kami ulas beberapa kasusnya. Hal ini penting terutama untuk melihat sejauh mana kasus tersebut berakhir yang juga bisa dipakai sebagai bahan refleksi untuk memprediksi keberlanjutan kasus calon petahana Gubernur DKI Jakarta Ahok.

  1. HB Jassin dan Cerpen Langit Makin Mendung

Dua tahun lebih setelah ditetapkannya pasal tentang penistaan agama oleh Soekarno, muncul kasus pertama yang menguji keampuhan pasal tersebut. Itu terjadi terhadap HB Jassin, pengasuh majalah Sastra.

Kasus tersebut berawal dari terbitnya majalah Sastra Th. VI No. 8 Edisi Agustus 1968 yang mempublikasikan cermin kontroversial berjudul “Langit Makin Mendung” karya seseorang yang menamai dirinya sebagai Ki Panji Kusmin. Dan sebagai pengasuh, HB Jassin pun terkena getahnya karena publikasi tersebut berusaha menggambarkan Allah, Nabi Muhammad dan Jibril yang kemudian menyebabkan kantor majalah Sastra di Jakarta diserang massa.

Meski sudah melayangkan permintaan maaf kepada publik. HB Jassin tetap saja diadili dengan dugaan penistaan agama. Ia kemudian dijatuhi hukuman percobaan selama satu tahun. Dan penulisnya, Ki Panji Kusmin, divonis hakim dengan kurungan selama satu tahun dan dua tahun masa percobaan.

  1. Arswendo Atmowiloto dan Tokoh Pembacanya

Sebagai pemimpin redaksi Tabloid Monitor, Arswendo Atmowiloto terpaksa harus merasakan pil pahit di balik jeruji besi. Ia divonis 5 tahun penjara dalam kasus penistaan agama.

Hal tersebut terjadi di tahun 1990. Arswendo dinyatakan telah melakukan penistaan agama lantaran tabloid yang dikelolanya memuat hasil jajak pendapat tentang tokoh-tokoh pembaca.

Dalam jajak pendapat tersebut, Presiden Soeharto berada di peringkat pertama sebagai tokoh pembaca. Arswendo sendiri berada di posisi ke-10. Sementara Nabi Muhammad, yang juga dimasukkan sebagai salah satu tokoh pembaca, bertengger di urutan ke-11 di bawah Arswendo.

Atas hasil jajak pendapat itu, muncullah kemarahan umat Islam. Tabloid Monitor dengan pemimpinnya Arswendo dianggap telah menistakan agama dengan melecehkan Nabi Muhammad. Massa pun menuntut Arswendo untuk diproses secara hukum, yang akhirnya berujung pada bui.

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS