Kapolri : Islam Pemilik Saham Terbesar dari NKRI

SHARE:

Kapolri : Islam Pemilik Saham Terbesar dari NKRI
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam acara halal bihalal bersama dengan 70 ormas Islam dan tokoh masyarakat di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (20/7).
Tak Sanggup Ungkap Kasus Novel, Mahasiswa Tuntut Kapolri Mundur
Kapolri Tito : Polri Harus Bertindak Tegas Demi Membela Prinsip-Prinsip Negara dan Bangsa
Kapolri Menegaskan Kembali Tidak Ada Kriminalisasi Ulama

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan bahwa Islam Indonesia tidak hanya sebagai pejuang dan pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melainkan juga sebagai pemik saham terbesar dari NKRI.

Hal itu disampaikan Kapolri Tito dalam acara halal bihalal bersama dengan 70 ormas Islam dan tokoh masyarakat di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (20/7).

“Islam di Indonesia tidak saja sebagai pejuang dan pendiri NKRI, Tapi juga pemilik saham terbesar dari NKRI, terutama Islam moderat, NU dan Muhammadiyah serta ormas Islam moderat lainnya,” kata Tito.

Dalam sambutannya Tito bercerita tentang pengalamannya mendampingi Presiden Joko Widodo menerima tamu kenegaraan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Menurut Tito, saat itu Presiden Ashraf Ghani merasa kagum dengan keragaman SARA Indonesia namun negara bisa tetap utuh dan aman. Berbeda dengan Afghanistan yang 95 persen penduduknya beragama Islam namun sering berkonflik dan terjadi ledakan bom.

Baca juga  Mahfud MD Menolak Ide Khilafah

“Beberapa waktu lalu saya mendampingi Presiden menerima Presiden Afghanistan, di sana 95 persen muslim dan tidak beragam. Indonesia sangat beragam, kata Presiden Afghanistan, bisa sangat utuh dan aman. Di Afghanistan tiap saat bom meledak,” cerita Tito.

Selain Presiden Ashraf, Pers Afghanistan yang ikut dalam kunjungan itu juga merasa nyaman sekaligus heran dengan kondisi masyarakat Indonesia yang beragam namun sangat aman. Mereka juga takjub dengan keindahan pemandangan dan kedamaian saat diajak berkeliling sekitar Istana Bogor. Setelah merasakan pengalaman itu, mereka kemudian bertanya tentang bagaimana cara mengelola Indonesia yang kaya keragaman ini sehingga bisa berhasil dengan baik.

Baca juga  Kapolri Menegaskan Kembali Tidak Ada Kriminalisasi Ulama

“Mengelola keragaman memang tidak mudah. Kita ingat Sekali, bagaimana Sejarah mencatat Soviet dan Yugoslavia yg besar bisa pecah. Raksasa pada zamannya. Indonesia yang luas dan beragam beruntung bisa utuh. Ini tak lain karena kesadaran seluruh warga bangsa dalam merawat, melestarikan dan menjaga keutuhan NKRI,” ungkap Tito. (za)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS