Isu Agama Diyakini Akan Terus Bergulir di Pilpres 2019

SHARE:

Isu Agama Diyakini Akan Terus Bergulir di Pilpres 2019
Prabowo kembali diserang lewat isu agama oleh tim Jokowi lewat La Nyalla di pilpres 2019.
Survey Litbang Kompas, Elektabilitas Prabowo-Sandi Naik 4,8 persen
Jelang Pendaftaran, 5 Nama Baru Ini Disebut Akan Meramaikan Pilpres 2019
Politikus PDIP: Anies Fokus Saja Benahi Jakarta, Tak Usah Maju Pilpres
KH Ma’ruf Amin Cawapres Jokowi di Pilpres 2019, Cicit Imam Masjidil Haram hingga Memberatkan Kasus Ahok
Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf: Insya Allah Persahabatan dengan Sandi tidak Terganggu

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Isu agama kembali digulirkan oleh kubu calon presiden-wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin kepada capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Adalah mantan politisi Gerindra yang hijrah ke Partai Bulan Bintang (PBB), La Nyalla Mattaliti yang beberapa waktu lalu mengklaim pemahaman Jokowi mengenai agama jauh lebih baik daripada Prabowo. Bahkan, La Nyalla menantang Prabowo memimpin salat dan membaca Alquran.

Isu terkait agama ini sebenarnya sudah beberapa kali bergulir. Paling dekat, pada September 2018 lalu, isu serupa juga digulirkan kubu Jokowi tatkala menanggapi kubu Prabowo yang menantang debat pilpres menggunakan Bahasa Inggris. Kala itu kubu Jokowi meminta Prabowo diadu untuk lomba mengaji Alquran.

Pengamat politik dari Populi Center Usep S Ahyar menilai serangan tersebut dilancarkan kubu Jokowi untuk menjatuhkan Prabowo di pemilihan presiden (pilpres) 2019. Usep menilai, isu agama memang menjadi salah satu titik kelemahan Prabowo.

Maka dari itu, isu agama diyakini akan terus bergulir. Pola ini, kata Usep, juga digunakan untuk ‘menyerang’ Prabowo pada pilpres 2014 lalu.

Di sisi lain, imbuh Usep, La Nyalla yang baru merapat ke Jokowi juga ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa berkontribusi dalam memenangkan Jokowi-Ma’ruf.

Melalui isu ini, mantan Ketua PSSI itu sekaligus mengklarifikasi isu yang sebelumnya ia gulirkan, yakni Jokowi terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan anti ulama. Namun upaya itu dinilai semakin kuat jika menunjukkan sisi kelemahan Prabowo yang kembali menjadi rival petahana itu.

“Itu upaya mengklarifikasi sambil menyerang juga, karena banyak juga pemilih atau tidak memilih Jokowi karena termakan isu itu,” ujar Usep, Jumat (14/12).

Meskipun isu seperti itu bergulir, namun menurut Usep, hal ini tidak akan mempengaruhi elektabilitas Prabowo. Karena, simpatisan Prabowo sudah cukup kuat.

Baca juga  Partai Demokrat Pamerkan Tagline #2019PemimpinMuda

Bahkan beberapa waktu lalu, kata Usep, pihaknya pernah melakukan survei. Hasilnya, ada beberapa wilayah yang warganya justru banyak menilai pasangan Sandiaga Salahuddin Uno itu lebih religius.

“Bahkan ketika ditanya, mana yang paling religius antara capres itu, ada dua atau tiga wilayah menyatakan Prabowo paling religius. Bahkan dibandingkan Ma’ruf Amin,” kata Usep.

Salah satu faktor penilaian masyarakat bahwa Prabowo merupakan sosok religius itu karena selalu dikaitkan dengan alim ulama, khususnya alim ulama yang terlibat dengan berbagai aksi bela Islam beberapa waktu lalu. Selain itu, Usep menilai isu yang digulirkan kubu Prabowo juga menyebutkan Jokowi sebagai anti ulama.

Tak hanya itu, ketika aksi reuni 212 digelar di Monumen Nasional (Monas) pada 12 Desember 2018 lalu, Prabowo hadir. Bahkan beberapa kali namanya disebut oleh massa sebagai presiden 2019.

Secara terpisah, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro juga menilai isu ini tidak akan memengaruhi elektabilitas Prabowo. Karena, ada faktor lain yang menjadi nilai tambah bagi mantan Danjen Koppasus tersebut.

“Prabowo dinilai punya kelebihan karena sosoknya tegas, lugas dan terbuka,” kata perempuan yang akrab disapa Wiwik itu sebagaimana dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (14/12).

Selain itu, kata Wiwik, dipilihnya Sandiaga yang berlatar belakang pengusaha sebagai wakil presiden Prabowo juga menjadi nilai tambah lainnya. Karena, hal itu menunjukkan bahwa Prabowo tidak ingin mengkontestasikan ulama sebagaimana Jokowi menunjuk Ma’ruf Amin sebagai wakilnya.

“Karena itu, menggulirkan isu agama untuk menyerang Prabowo tak akan efektif karena justru itu dianggap menyerang hal-hal yang sifatnya private seorang calon, bukan kualitas visi, misi dan program,” kata dia.

Baca juga  Ketua DPP PDI Puan Buka Kemungkinan Duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019

Setop Gunakan Isu Agama 

Baik Usep maupun Siti menilai pengguna isu agama untuk menarik simpati publik seperti yang dilakukan La Nyalla tidaklah tepat. Pasalnya, publik kini lebih cerdas. Mereka akan melihat bagaimana setiap calon mampu mengutarakan visi dan misinya secara jelas.

Secara khusus terhadap kubu Jokowi, Siti menyampaikan sedianya lebih baik mengutarakan berbagai program yang sudah berhasil dijalankan dan yang akan berjalan. Menggunakan isu agama untuk menyerang lawan politiknya sama saja melanggar kesepakatan tidak mempolitisasi agama.

“Selama empat tahun terakhir dan apa yang akan diterobos untuk lima tahun ke depan, sehingga visi misinya lebih membumi dan dibutuhkan rakyat,” kata Siti.

Sementara Usep mengingatkan agar isu seperti ini tidak diangkat lagi dan digantikan dengan isu yang lebih substansial. Khsusunya terkait peningkatan ekonomi dan pembangunan bangsa.

“Saya kira ini (isu agama) sebenarnya enggak perlu dibesarkan karena seringkali melupakan pada isu pokok, ekonomi pembangunan yang seharusnya dapat porsi lebih banyak,” ujarnya.

Sebelumnya La Nyalla menilai Prabowo Subianto tak begitu memahami ajaran agama Islam jika dibandingkan Jokowi. Ia juga menuding Prabowo tak berani memimpin salat berjamaah maupun membaca Alquran dengan baik.

“Pak Prabowo berani suruh mimpin salat? Enggak berani. Ayo kita uji ke-Islamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, baca bacaan Salat,” kata La Nyalla di Kediaman Ma’ruf, Menteng, Jakarta, Selasa (11/12). (cn/sd)

COMMENTS