Indonesia dan Jalur Sutra Abad Milenium

SHARE:

Indonesia dan Jalur Sutra Abad Milenium
Ikut KTT Beijing, Indonesia Raih Banyak Keuntungan
Tak Hanya Indonesia, Negara Lain juga Berlomba Ambil Investasi dari China

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Minggu (14/5/2017), China menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pertama bertajuk Belt and Road Forum (BRF) di Beijing.

Hampir 22 abad silam, Kaisar Han mengutus Zhang Qian mendatangi kerajaan Dayuan di Asia Tengah untuk membentuk aliansi militer. Perjalanan itu melahirkan rute perdagangan legendaris Jalur Sutra.

Berselang dua milenium, China kembali mengajak negara-negara di sekelilingnya untuk bergabung dalam aliansi multinasional yang dijuluki Jalur Sutra Baru.

Dalam kunjungan kenegaraan di Kazakhstan pada 7 September 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan pembangunan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt). Tiga pekan kemudian, di hadapan parlemen Indonesia di Jakarta, Xi mengemukakan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (21st Century Maritime Silk Road).

Kedua konsep tersebut digabungkan menjadi inisiatif Satu Sabuk dan Satu Jalur (OBOR), yang merupakan desain akbar untuk menghubungkan sejumlah negeri di sepanjang rute perdagangan bersejarah itu, mulai dari Asia Tengah hingga Eropa dan Afrika, mulai dari Asia Tenggara hingga Jazirah Arab.

Berdasar data Bank Pembangunan Asia kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur di Asia mencapai 800 miliar dolar AS setiap tahunnya. Sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar kedua di dunia, China diharapkan dapat membantu menutupi kebutuhan itu.

Sejak mengumumkan inisiatif itu, China selalu berusaha menjamin keberhasilan proyek ini dengan membentuk skema pendanaan melalui Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), New Silk Road Fund, kerangka Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), serta bantuan bilateral langsung. Tak heran banyak pengamat internasional menjuluki inisiatif OBOR ini sebagai Rencana Marshall versi China.

Tetapi petinggi China menampik tudingan itu. Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan, OBOR adalah produk kerja sama inklusif, bukan alat geopolitik, dan tidak seharusnya dipandang dengan menggunakan mentalitas Perang Dingin yang sudah usang.

Sementara dalam Rencana Marshall, Amerika Serikat tidak mengikutsertakan negara-negara Eropa yang pro-komunis. Amerika Serikat juga mewajibkan semua negara yang terlibat untuk mengikuti aturan dan persyaratan ketat.

OBOR adalah inisiatif kerangka kerja sama yang lebih menekankan aspek ekonomi tanpa mempermasalahkan ideologi, agama, ataupun sikap politik. China hanyalah pencetus inisiatif ini dan mengharapkan partisipasi aktif negara-negara lain. China juga tidak dalam posisi untuk memengaruhi atau mendikte program pembangunan infrastruktur dari negara-negara lain.

Bagi China, OBOR bukan hanya kebijakan internasional untuk mengangkat status dan meningkatkan pengaruh China di kawasan, tetapi juga sebuah program pembangunan bagi perekonomian nasional China. Dengan menggunakan cadangan devisanya sebagai pinjaman bagi negara berkembang, China bisa menciptakan permintaan proyek besar bagi perusahaan-perusahaan konstruksi mereka.

Di sisi lain, negara-negara yang menerima bantuan juga akan menjadi pasar baru, saluran bagi kelebihan kapasitas produksi barang dan jasa yang terjadi di China

OBOR memang diprediksi akan mampu membuat negara-negara seperti Pakistan, Indonesia, dan Tajikistan semakin mendekat ke arah China, namun pada saat bersamaan akan mengundang kekhawatiran kekuatan besar lain yang menganggap kehadiran China mengancam pengaruh mereka di kawasan.

Misalnya Rusia di Asia Tengah, India di Samudra Hindia, Amerika Serikat di Laut China Selatan, serta sejumlah negara Eropa yang tidak nyaman dengan perluasan pengaruh China di Eropa. Ini justru akan semakin mempertajam teori “ancaman China” yang dihembuskan sejumlah negara.

China telah berusaha meredam ini dengan menekankan bahwa Jalur Sutra adalah inisatif yang saling menguntungkan semua pihak yang mau bergabung.

Presiden Xi Jinping mempromosikan ide OBOR sebagai “komunitas dengan masa depan bersama”.

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow