Genjot Infrastruktur Indonesia Tertinggal, Sri Mulyani Akan Libatkan Swasta Lebih Banyak

SHARE:

Genjot Infrastruktur Indonesia Tertinggal, Sri Mulyani Akan Libatkan Swasta Lebih Banyak
Menteri Keuangan Sri Mulyani
Sudah Bukan Lagi ‘KW’, Rumput Laut Indonesia Tembus AS
Quraish Shihab: ‘Idul Fithri Sebagai Momentum Untuk Membina dan Memperkukuh Ikatan Kesatuan dan Persatuan Kita
Merasa Hak Mereka tidak Ditepati, TKD Pendidikan Halut Melakukan Protes

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membeberkan alasan dan langkahnya dalam mengambil inisiatif pembangunan infrastruktur Indonesia tertinggal.

Menurut Sri, langkah ini wajib dilaksanakan demi mengejar ketertinggalan bangsa dari bangsa-bangsa yang sudah maju lainnya.

“Saat ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk memulihkan dan mengejar ketertinggalan pembangunan selama 18 tahun terakhir,” terang Sri dalam sambutannya di acara Indonesia Infrastructure Finance Forum di Fairmont Hotel, Senayan, Jakarta, Selasa (25/7/2017).

Tetapi, bagi Sri, langkah ini tidak mudah. Karenanya, isu keberlanjutan dan stabilitas keuangan negara harus dijaga.

“Sangat penting bagi kita melibatkan sektor swasta dan bagaimana World Bank siap membantu,” tandasnya.

Untuk itu, Sri secara khusus meminta Presiden World Bank Group Jim Yong Kim untuk mendorong kerja sama yang lebih erat dengan Indonesia guna mengatasi masalah pembangunan dan pendanaannya.

“Bagaimana kita bisa memanfaatkan ruang anggaran yang terbatas tapi bisa melibatkan skema sektor pendanaan yang bisa menarik swasta lebih banyak,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bagaimana sulitnya melakukan pembangunan infrastruktur Indonesia tertinggal ini. Dan kesulitan tersebut sudah dialami oleh pemimpin-pemimpin terdahulu.

“Bisa dilihat ketika harus menghadapi krisis ekonomi Asia pada 1998-1999, sehingga Indonesia mengalami tingkat utang yang sangat besar untuk membanun kembali berbagai layanan sosial setelah krisis yang terjadi,” terangnya.

Itu sebabnya, tambah Sri, pemerintah harus melakukan stabilisasi negara dan mengembalikan kepercayaan, juga mengurangi tingkat utang dengan memastikan lembaga keuangan negara sehat dan kuat.

“Presiden Jokowi memimpin dan kita lihat Indonesia lebih stabil, rasio utang dan PDB stabil walaupun belum cukup baik,” pungkas Sri.

COMMENTS