Fadli Zon Sebut Poros Ketiga Pemilu 2019 Sulit Terbentuk

SHARE:

Fadli Zon Sebut Poros Ketiga Pemilu 2019 Sulit Terbentuk
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon
Soal Pencabutan 900 Watt, Ketua Fraksi Gerindra : Dirut PLN Tidak Merasakan Penderitaan Rakyat
Titik Temu RUU Pemilu Masih Mengambang, DPR Minta Presiden Bertemu Pimpinan Parpol
Wakil Ketua Umum Gerindra Yakin Jokowi Bakal Kesulitan Cari Cawapres

JAKARTA, SUARADEWAN.com- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menyebutkan bahwa poros ketiga di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 akan sulit terbentuk. Pasalnya sejak awal ia sudah memprediksi bahwa rematch atau pertarungan ulang antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto di Pemilu 2014 lalu akan terulang di 2019.

“Prediksi saya dari awal akan head to head, hanya ada 2 calon. Rematch two horse race. Sulit untuk terbentuk poros ketiga, sekarang ujungnya cuma ada dua nama yang dianggap layak dan mampu jadi calon presiden, yakni Jokowi dan Prabowo,” tutur Fadli di Gedung DPR, Senin (12/3).

Ia mengatakan, hal tersebut sudah terbukti dalam sejumlah poling. Dengan demikian, menurutnya pembentukan poros ketiga agak lemah dari beberapa sisi. Mulai dari sisi analisis, kultur, dan politiknya. “Istilahnya persenyawaan politik agak kurang. Menurut saya akan ada 2 calon meskipun yang namanya politik apa saja bisa terjadi,” terangnya.

Baca juga  Polisi Akan Panggil Anggota DPR Ponakan Prabowo Terkait Dugaan Pornografi

Baca juga:

Hingga saat ini, katanya, Gerindra masih melakukan sejumlah penjajakan dengan partai-partai lainnya. Penjajakan yang dilakukan adalah terkait dengan calonnya, potensi untuk menang, dan bagaimana menata ke depan jika menang. Termasuk Partai Demokrat pun dinilainya belum mengambil keputusan dan baru sekedar
memberikan sinyal.

Baca juga  Fadli Zon Nilai Polisi Harus Transparan Soal Kasus Ahok

“Pokoknya nanti komunikasi dulu. Dari situ nanti akan tahu letak kepentingan masing-masing. Melalui komunikasi itu juga kami akan tahu apakah punya platform sama, visi misinya. Saya kira persamaan platform dan visi misi ini yang sangat penting,” terangnya.

Ia mengaku, pihaknya akan sulit berkoalisi dengan partai-partai yang tidak menginginkan adanya perubahan dan menganggap keadaan sekarang merupakan yang terbaik. Namun pihaknya akan dengan sangat terbuka menerima koalisi dengan partai yang menyebut keadaan saat ini menyulitkan dan menyengsarakan masyarakat.

“Strateginya nanti saat ditetapkan sebagai calon (Prabowo) kami akan genjot komunikasi dan sebagainya. Kalau Prabowo sudah dideklarasikan, pasti elektabilitasnya akan naik,” pungkasnya. (af)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS