WP-MagOne-728x90

Elektabilitas Partai Hanura Terus Meningkat, Efek Kejut Akan Terlihat Mulai Tahun Depan

SHARE:

Elektabilitas Partai Hanura Terus Meningkat, Efek Kejut Akan Terlihat Mulai Tahun Depan
Ketua Umum DPP Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) bersama Wiranto Ketua Dewan Pembina DPP Partai Hanura dan Gede Pasek Suardika Wakil Ketua Umum DPP Hanura
Oesman Sapta Odang (OSO) Resmi Terpilih Jadi Ketua DPD
Kader Partai Terseret Kasus e-KTP, Ketua Hanura: Saya Akan Panggil

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei terbarunya tentang elektabilitas partai politik jelang Pemilu 2019. Survei digelar pada 3-10 September 2017. Jumlah responden 1.220 dan dipilih secara acak (multistage random sampling).

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mendapat elektabilitas tertinggi yakni 27,1 persen. PDIP jauh meninggalkan Partai Golkar yang berada di urutan kedua dengan elektabilitas 11,4 persen. Di urutan ketiga, Partai Gerindra dengan keterpilihan 10,2 persen. Partai Demokrat di urutan ke empat dengan elektabilitas 6,9 persen. Menariknya, ada dua partai yang tak lolos parlementary threshold karena elektabilitasnya di bawah 3,5 persen. Mereka adalah NasDem dan Hanura.

“Dengan margin of error +/- 3,1 persen, dibanding hasil pemilihan umum 2014, hanya PDIP yang mengalami kemajuan dukungan rakyat. Dukungan tersebut cenderung selalu di atas hasil pemilu 2014 dalam 3 tahun terakhir,” kata Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan, Kamis (5/10).

Hasil Survey SMRC

Baca juga:

Menanggapi hasil survei SMRC tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Hanura, Gede Pasek Suardika dengan santai menyebutkan bahwa ketika melihat hasil survey yang harus dibaca adalah tren peningkatan atau penurunan dari parpol tersebut. Justru menurutnya elektabilitas Partai Hanura justru meningkat.

“Kalau melihat angkanya, posisi Hanura terlihat masih kecil. Tetapi kalau baca utuh sebenarnya tren meningkat 0,9 persen dari sebelum munaslub Hanura akhir tahun lalu,” kata Pasek Suardika, Jum’at (6/10) di Jakarta.

Menurutnya survei sebelumnya SMRC menempatkan Hanura di angka 0,4 persen di November 2016 lalu, dan hampir mirip dengan CSIS yang menempatkan Hanura di 0,6 persen.

“Di survei terakhir CSIS menempatkan Partai Hanura di angka 1,5 persen dan SMRC 1,3 persen. Kenaikan sama-sama 0,9 persen. Yang harus dibaca adalah tren peningkatan atau penurunan dari parpol tersebut,” kata GPS yang juga anggota DPD RI tersebut.

Menurutnya, lambatnya kenaikan Partai Hanura sangat masuk akal karena fokus Hanura saat ini baru pembenahan infrastruktur partai.

“Belum sampai pada serangan massif sosialisasi ke masyarakat karena fokus pada pendaftaran dan verifikasi partai. Maklum kan Hanura paling belakang penataan partainya. Efektif baru awal bulan ini,” kata mantan Ketua Komisi III DPR RI ini.

Sesuai dengan desain besarnya, loncatan positioning Hanura akan terlihat awal tahun depan setelah konsolidasi ke dalam tuntas dan caleg dini sudah dikenalkan ke publik.

“Dengan sistem suara terbanyak, maka figur dan partai akan sama-sama memberikan sumbangan besar bagi elektabilitas partai,” kata mantan wakil ketua Pansus RUU Pemilu tersebut.

Saat ini mengenalkan Hanura masih berpola gerilya sehingga terkesan tidak massif dan merata.

“Nanti setelah semua siap, efek kejut dari Hanura akan terlihat. Pengalaman Pemilu lalu dengan kondisi yang jauh berbeda dengan sekarang saja bisa mencapai lebih 5 persen. Apalagi saat ini. Kita sudah hitung betul itu. Figur-figur kuat di tiap dapil nantinakan menggegerkan kompetisi Pemilu 2019 nanti di daerah,” katanya. (ED)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow