Dradjad Wibowo: Berapa Biaya Dipakai Indonesia Jadi ATT DK PBB?

SHARE:

Dradjad Wibowo: Berapa Biaya Dipakai Indonesia Jadi ATT DK PBB?
Anggota Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo
Dradjad Wibowo: Tidak Hanya PAN yang Kerap Berseberangan dengan Pemerintah, PDIP Juga Sering
Donald Trump Sebut Korut Ancaman Bagi Dunia
Indonesia Resmi Menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Anggota Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo mengaku heran dengan kehebohan atas masuknya Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB (ATT DK PBB) 2019-2020. Padahal Indonesia sudah beberapakali menjadi anggota, dan peran ATT DK PBB sangat terbatas.

Disamping itu Dradjad Wibowo juga mempertanyakan biaya yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk bisa menjadi ATT DK PBB.

“ini sangat penting, berapa anggaran APBN yang dipakai untuk memenangkan persaingan melawan Maladewa? Pos anggaran apa saja yang dipakai?” tanya Dradjad, Ahad (10/6).

Sebagai perbandingan, Australia menghabiskan 25 juta dolar AS (hampir Rp 350 miliar) ketika menang tahun 2012. Swedia habis 4 juta dolar AS (hampir Rp 56 miliar) pada tahun 2016 hanya untuk biaya staf/diplomat, utusan khusus, dan perjamuan.

Baca juga  Donald Trump Sebut Korut Ancaman Bagi Dunia

“Ini belum termasuk biaya lobby yang lebih mahal,” kata Dradjad.

Dradjad mengatakan rakyat berhak tahu alasan pemerintah lebih memrioritaskan kampanye ke DK PBB dibanding program lainnya. “Urgensinya apa? BPK juga perlu mengaudit, apakah biaya lobby yang digunakan itu sah,” ungkapnya.

Dradjad juga bertanya tentang alasan Indonesia ngotot menjadi ATT DK PBB untuk periode 2019-2020. Sampai-sampai harus voting melawan Maladewa, yang belum pernah sekalipun menjadi ATT DK PBB.

“Padahal unggah-ungguhnya (etikanya, red), negara yang belum pernah lah yang diberi kesempatan,” papar Dradjad. Pertanyaan lainnya, sambung Dradjad, adalah mengapa ngotot untuk periode yang dimulai 1 Januari 2019?.

Bahkan, menurut Dradjad, Arab Saudi pernah menolak duduk sebagai ATT DK PBB. Ceritanya, Arab Saudi terpilih pada tanggal 17 Oktober 2013. Perolehan suaranya 176. Bandingkan dengan Indonesia yang memperoleh 144.

Baca juga  Indonesia Resmi Menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB

Selain itu, kata Dradjad, Arab Saudi tidak mendapat saingan dari negara lain ketika terpilih. Hal ini sama dengan Jerman, Belgia, Afrika Selatan dan Republik Dominika yang terpilih bersama Indonesia untuk periode 2019-2020. Hanya Indonesia vs Maladewa yang harus masuk pemungutan suara.

Setelah terpilih, lanjut Dradjad, Arab Saudi langsung menyatakan menolak duduk dalam DK PBB. Alasannya, DK PBB dinilai berstandar ganda, sehingga tidak efektif dalam mengatasi konflik Israel-Palestina, pelucutan senjata nuklir di Timur Tengah dan penghentian perang saudara di Suriah. (rep)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS