WP-MagOne-728x90

DPR Sarankan Fillipina Bentuk Operasi Anti Terorisme Bersama Negara-Negara ASEAN

SHARE:

DPR Sarankan Fillipina Bentuk Operasi Anti Terorisme Bersama Negara-Negara ASEAN
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon
Ribuan Warga Marawi Menderita Akibat Teror Kelompok Abu Sayyaf
Sajak Diktator Kecil Karya Fadli Zon

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Negeri jiran Fillipina saat ini tengah menghadapi gejolak di daerah Marawi akibat aksi teror yang dilakukan oleh kelompok terafiliasi ISIS disana. Gejolak tersebut bermula dari rencana Militer Fillipina menangkap pemimpin kelompok brutal itu yang bernama Isnilon Hapilon. Karena menolak pemimpinnya ditangkap, anak buah Isnilon Hapilon yang saat ini dikenal sebagai ISIS Filipina lalu melakukan perlawanan dan mengobarkan perang pada pemerintah Fillipina.

Medan perang Militer melawan kelompok teroris itu adalah di Marawi, sebuah daerah di Fillipina Selatan yang dihuni 205 ribu jiwa warga Fillipina. Akibat perang yang berkecamuk itu puluhan orang dari kedua belah pihak sudah meregang nyawa, termasuk para kombatan yang berasal dari negara lain yang membantu ISIS Fillipina.

Akibat perang itu, ratusan ribu masyarakat Marawi terpaksa harus mengungsi dan terusir paksa dari rumahnya untuk menyelamatnya nyawa, termasuk juga harus merelakan kehilangan harta benda miliknya.

Untuk mengatasi persoalan ini agar segera selesai hingga ke akarnya, Presiden Fillipina Rodrigo Duterte menghubungi Presiden Jokowi untuk meminta bantuan Militer TNI menghadapi teroris yang mengacau di negaranya tersebut.

Hingga saat ini pihak Istana diketahui belum memberikan keputusan tegas terkait permintaan Presiden Duterte, apakah akan menerima atau menolak. Pasalnya, pelibatan TNI dalam konflik fisik di negara lain harus melalui berbagai proses dan pertimbangan, salah satunya melalui persetujuan DPR RI.

Terkait hal itu, sejauh ini DPR RI belum melakukan pembicaraan khusus mengenai permohonan Duterte tersebut. Hal itu diakui Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (3/7).

Menurut Fadli Zon, persoalan ini perlu dibicarakan terlebih dahulu. Pasalnya, pelibatan TNI dalam konflik di negara lain memang kelihatannya gampang, tapi pada kenyataannya tidak semudah itu untuk dilakukan.

“Saya tidak mau mendahului, tapi saya kira kita bicarakan. Karena pelibatan itu kan perkara yang kelihatannya gampang tapi tidak semudah itu untuk dilakukan. Itu kita tidak tahu medannya disana,” tukas Fadli.

Namun, politikus Gerindra ini mengakui bahwa TNI memang punya sejarah terlibat dalam konflik di Fillipina, tepatnya di daerah Mindanao. Tapi keterlibatan TNI saat itu adalah sebagai penengah dari pihak yang berkonflik, bukan terjun langsung sebagai peserta konflik fisik.

“Tapi saat ini kan pelibatan secara fisik. Dan pelibatan secara fisik untuk kasus yang spesifik seperti ini, bukan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang punya standar dan SOP yang jelas. Ini perlu dipikirkan apakah kita siap, apakah kita mampu, karena kita sendirikan punya sejumlah masalah,” bebernya.

Menurut Fadli, pemerintah Fillipina mestinya jangan hanya meminta bantuan Militer pada Indonesia, melainkan juga perlu meminta bantuan pada negara-negara lain yang tergabung dalam ASEAN, yang memiliki kesamaan kepentingan untuk membersihkan wilayah Asia Tenggara dari terorisme.

“Kalau pihak Fillipina memang mau meminta bantuan, harusnya jangan hanya ke Indonesia, tapi join. Misalnya dengan ASEAN. Jadi beberapa kontingen dari negara ASEAN karena punya kesamaan tujuan untuk memberishkan wilayah Asia Tenggara ini dari terorisme, sama-sama membentuk semacam operasi anti terorisme bersama. Saya kira itu akan lebih bagus,” demikian Fadli. (za)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow