WP-MagOne-728x90

DPR RI Maklumi Aparat Tembak Mati Tersangka Teror Penusukan Polisi

SHARE:

DPR RI Maklumi Aparat Tembak Mati Tersangka Teror Penusukan Polisi
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.
Kenapa PT 20 Persen Lalu Tidak Diprotes? Fadli Zon : Karena Konfigurasi Politik Sudah Berubah
Fadli Zon: Prabowo Dukung ‘Angket Ahok Gate’

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Aksi teror terhadap aparat Kepolisian seolah mengalami peningkatan dalam waktu belakangan ini. Setelah sebelumnya terjadi aksi teror terhadap Polda Sumatera Utara, beberapa hari lalu giliran dua anggota Brimob yang diserang dan ditusuk menggunakan senjata tajam.

Aksi teror itu dilakukan tersangka setelah pelaksanaan shalat Isya di Masjid Falatehan, sebelah Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jumat (30/6) lalu.

Merespon tindakan teror itu, Polisi lainnya kemudian mengambil tindakan tegas dengan menembakkan timah panas pada tersangka hingga akhirnya yang bersangkutan meregang nyawa.

Terkait hal itu, Wakil Ketua DPR RI Fadlzi Zon berpendapat, persoalan itu harus dikaji hingga tuntas dan dicari tahu motif tersangka melakukan teror terhadap aparat kepolisian. Apakah karena yang bersangkutan mengangap Polisi sebagai ancaman atau alasan lainnya.

Fadli mendukung penuh pemberantasan terorisme, sebab aksi dan paham seperti itu hanya menimbulkan keresahan bahkan membahayakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di NKRI. Namun meskipun begitu, ia juga mengegaskan bahwa upaya pemberantasan terorisme itu harus dijalankan dalam kerangka penegakan hukum yang adil.

“Terorisme ini harus kita berantas, tapi disisi lain juga penegakan hukum harus adil,” kata Fadli di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (3/7).

Kemudian Fadli mengingatkan bahwa kejadian itu memang sudah berlalu, namun tetap harus dicari tahu penyebab tersangka sampai seberani itu melakukan tindakan teror apalagi di dekat Mabes Polri.

“Itu adalah sesuatu yang sudah terjadi. Tapi dibelakang itu menurut saya perlu dikaji lagi pesoalan-persoalan yang melatarbelakanginya kenapa bisa sampai seberani itu melakukan suatu tindakan teror,” imbuhnya.

Saat ditanya mengenai apakah tindakan Polisi yang menembak mati tersangka teror penusukan itu melanggar Hak Asasi Manusia atau tidak, Fadli mengatakan ada kajian mengenai hal itu

“Tentu ada kajian terhadap itu. Kalau untuk melakukukan pembelaan diri dan itu merupakan tindakan spontanitas dalam rangka membela diri, bisa dipahami,” tukas Fadli.

Meskipun begitu, Fadli berpendapat idealnya memang tersangka itu tidak ditembak mati, melainkan ditangkap hidup-hidup untuk dimintai keterangan dan dilakukan penyelidikan mengenai siapa dalang yang mendorong tersangka melakukan aksi teror itu.

“Idealnya itu harusnya tidak boleh ditembak. Tapi kalau memang mengancam nyawa dan sebagainya, saya kira patut dipahami lah,” demikian Fadli. (za)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow