Demi Infrastruktur Produktif, Pemerintah Terpaksa Harus Kembali Menambah Utang Negara Tahun Ini

SHARE:

Demi Infrastruktur Produktif, Pemerintah Terpaksa Harus Kembali Menambah Utang Negara Tahun Ini
Menteri Keuangan Sri Mulyani
Ke Labuan Bajo, SMI: Jadikan Pariwisata Sebagai Kebanggaan Indonesia
Menkeu: Dana Desa Semakin Besar, Kemiskinan tidak Beranjak Turun
Rugi 6 BUMN Ini Justru Semakin Besar Setelah Dapat Suntikan Modal Negara

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memastikan bahwa utang negara mau tidak mau harus ditambah di tahun ini. Langkah ini demi pembangunan infrastruktur yang produktif, seperti di bidang kesehatan dan pendidikan.

“Kita akan terus mengelola dan meyakinkan agar utang tersebut betul-betul dilakukan untuk hal-hal yang sifatnya produktif,” terang Sri dalam jumpa persnya di Jakarta, Jumat (28/7/2017).

Adapun alasan utama mengapa negara harus mengambil kebijakan tentang utang ini, tidak lain bersumber dari menimnya pendapatan pajak di tahun 2017 ini. Itu sebabnya Indonesia masih harus berutang, terlebih ada sejumlah belanja pemerintah yang tidak bisa ditunda tersebut.

Baca juga  Menkeu: Indonesia Ingin Menjadi Anggota FATF

Meski demikian, bertolak dari defisit anggaran negara hari ini yang hampir menyentuh batas 3 persen, utang tersebut akan pemerintah anggarkan dengan patokan di level 2,92 persen.

“Itu ada bukti bahwa pemerintah akan terus menjaga agar defisit dengan demikian utang akan terus dikelola secara hati-hati dan bijaksana,” tandasnya.

Baca juga  Banyak Yang Mempermasalahkan Utang Negara, Sri Mulyani Beri Penjelasan Panjang Lebar

Sebelumnya, di tahun 2016 lalu, pemerintah sudah melakukan langkah penghematan anggaran. Dan langkah ini akan terus dilanjutkan di tahun 2017 ini sehingga rasio utang tidak akan melonjak melebih 30 persen dari PDB.

“Dengan demikian, ia (utang tersebut) akan meningkatkan potensi ekonomi sehingga tidak menimbulkan risiko untuk pembayaran kembali di masa yang akan datang,” pungkas Sri.

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS