WP-MagOne-728x90

Bukannya Mendamaikan, Vlog Ustadz Ini Justru Tebar Benci dan Fitnah ke Institusi Polri

SHARE:

Bukannya Mendamaikan, Vlog Ustadz Ini Justru Tebar Benci dan Fitnah ke Institusi Polri
Jika Miryam Tak Kunjung Hadir, Pansus Akan Panggil Paksa dengan Bantuan Polri
Polri: Masyarakat Juga Harus Lawan Radikalisme

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Dalam video blog (vlog) berdurasi kurang lebih 7 menit 2 detik, seorang ustadz terlihat melakukan hate speech, tebar benci dan fitnah ke insitusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Hate speech tersebut terkait kasus pembacokan yang dialami oleh pakar IT yang juga merupakan saksi ahli dari pelaku chat mesum Rizieq Shihab, Hermansyah.

“Saya gak habis pikir kalau sudah menyebut kata-kata “polisi”, yang dari rambut sampai kakinya, gajinya, biaya hidupnya, dibayar dari uang rakyat. Belanja untuk istrinya, biaya kuliah untuk anak-anaknya, itu adalah digaji dari uang rakyat,” ujarnya.

“Tapi sampai detik ini (polisi) sama sekali zolim terhadap rakyat, tidak memihak rakyat. Mereka sudah mulai beropini, itu kecelakaanlah, itu senggol-senggolanlah, itu begini-begitulah,” tambahnya.

Ia meyakini bahwa kasus tersebut merupakan rekayasa dari institusi kepolisian. Bahkan ia menanyakan kepada para pelaku pembacokan bahwa dirinya dibayar berapa untuk menganiaya Hermansyah.

“Kemarin saya update status seperti yang lain-lain di Facebook. Dibayar berapa? Barangkali yang nusuk nonton video ini, ya allah ya, dibayar berapa? 1 juta, 1 miliar, 1 triliun, mau dipake apa uang itu?” pungkasnya.

Jelas, apa yang disampaikan ustad dalam video blog tersebut sama sekali tak berdasar, yang bahkan berujung pada fitnah. Sebab diketahui bahwa para pelaku pembacok Hermansyah telah menerangkan motif apa yang mendorongnya untuk menghabisi pakar IT dari ITB ini.

Lagipula, seperti bisa kita simak, insitusi Polri sendiri sudah mereformasi diri dan terus berubah sampai sekarang ke arah lebih baik. Tidak semua polisi tidak benar, masih banyak polisi yang bagi dan memiliki dedikasi pengabdian ke masyarakat.

Seorang ustadz tentu tidak selayaknya meyampaikan hal-hal yang tidak mendasar dan bertendensi fitnah, apalagi ke institusi tertentu karena beresiko hukum. Tokoh agama diharapkan memberikan pesan-pesan yang membangun dan menyejukkan dan menentramkan umat bukan memprovokasi umat. (MS)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow