BIN Ungkap Ada 3 Operasi Intelijen Asing yang Ancam Indonesia

SHARE:

BIN Ungkap Ada 3 Operasi Intelijen Asing yang Ancam Indonesia
Kepala BIN Budi Gunawan
OSO Konsisten Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Wakil Walikota Tangsel Sidak Gedung Tiga, Begini Isi Pesannya
Jenderal Gatot: Selagi Masih Ada Ulama, Insya Allah Indonesia Tetap Aman dan Bersatu

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman operasi intelijen yang dilakukan oleh pihak asing. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan.

Menurutnya, ancaman ini cukup krusial dan patut diwaspadai karena berpotensi menggangu stabilitas kemanan dan keutuhan NKRI.

“Ancaman di depan mata kita terutama ada operasi intelijen negara asing di negara kita.

Budi menerangkan ada tiga operasi yang saat ini gencar dilakukan oleh pihak asing. Pertama black ops intelligence.

Black ops intelligence merupakan operasi intelijen yang dilakukan oleh negara, lembaga, atau organisasi asing yang bertujuan melemahkan dan mengganti rezim pemerintahan. Pergantian rezim dilakukam melalui upaya infiltrasi, kudeta, dan lain-lain,” terangnya, Kamis (13/7/17).

Baca juga  BIN Bantah Sadap SBY

Kemudian, yang kedua adalah psycho ops intelligence. Ia menjelaskan, operasi intelijen ini  menyebarkan informasi-informasi dengan indikator-indikator tertentu melakukan brain wash, bisa melalui berita yang menyesatkan atau hoax terhadap target atau kelompok tertentu.

“Informasi-informasi bohong itu biasanya digunakan untuk mempengaruhi emosi, motif, dan cara berpikir orang-orang. Dengan maksud mengubah perilaku perorangan, kelompok, kemudian pemerintah. “Ini yang sudah terjadi di Indonesia,” sebutnya.

Dan terakhir adalah Currency war, yakni operasi intelijen di bidang ekonomi yang berujuan melemahkn keuangan negara. Sperti yang dialami oleh Afganistan dan Irak.

Baca juga  BIN: Konflik Sosial Muncul Akibat Minimnya Kesadaran Hukum

Cara ini juga pernah dilakukan oleh pihak asing di Indonesia pada tahun 1998. Saat itu Indonesia mengalami krisis moneter yang berkepanjangan sehingga menimbulkan gejolak sosial.

“Selalu bergantung, selalu berutang dan akhirnya meminta bantuan pada mereka. Contoh yang berhasil di Afganistan dan Irak. Saat ini sangat bergantung pada bantuan-bantuan negara superpower tersebut meski sumber daya mereka cukup besar tapi sudah dikuasai asing, pangan saja harus disubsidi asing,” jelasnya. (dd)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

COMMENTS