Sambangi Komnas HAM, Sejumlah Alumni 212 Gelar Petisi Bela Ulama dan Aktivis

SHARE:

Sambangi Komnas HAM, Sejumlah Alumni 212 Gelar Petisi Bela Ulama dan Aktivis
Sejumlah massa aksi bela ulama dan aktivis padati ruang pengaduan Komnas HAM
Alumni 212 Demo Komnas HAM Dukung Rizieq Shihab dan Al-Khathath
9 Calon Komisioner Komnas HAM Punya Hubungan dengan Ormas Radikal

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ratusan massa alumni 212 bertandang ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), pada Senin (08/5). Kedatangan massa alumni 212 tersebut, dalam rangka mendorong Komnas HAM untuk mengusut tuntas semua pelaku kriminalisasi terhadap para ulama dan aktivis. Baik yang terlibat secara langsung atau pun tidak langsung.

Pada kesempatan tersebut, kain putih dengan panjang sekira 20 meter, bertuliskan paraf petisi bela ulama dan aktivis itu, dibentangkan di halaman Komnas HAM. Bahkan alumni 212 yang datang pun berebut untuk ikut andil menggoreskan penanya sebagai bentuk dukungan nyata.

Massa aksi bela Ulama dan Aktivis berebut paraf petisi

Dalam audiensinya, salah satu alumni 212 Faizal Assegaf menuturkan, agar pengusutan kriminalisasi terhadap ulama, aktivis dan tokoh lain untuk segera dilakukan. Kemudian pihaknya pun meminta segera dilakukan pembentukan Team Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menghindari intervensi dari para pengusaha dan lain sebagainya.

“Kami meminta Komnas HAM juga membuat progres dari tim investigasi. TGPF selain dari Komnas HAM juga dari tokoh nasional, akademisi, ulama harus dilibatkan, ” kata Faizal Assegaf, pada Senin (08/5).

Presidium Alumni 212 Amien Rais

Sementara Presidium Alumni 212 dan mantan Ketua MPR RI, Amien Rais menambahkan, kasus ini merupakan kasus yang luar biasa. Sehingga pihaknya pun yakin bahwa kesewenang-wenangan pasti akan jatuh.

“Terimakasih kepada Komnas HAM, saya pun sudah sampaikan kepada pak Nasution. Bahwa, kasus ini sangat luar biasa. Saya sampaikan bahwa kesewenang-wenangan suatu saat pasti akan jatuh, kita tunggu saja kapan itu akan jatuh,” imbuhnya singkat.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komnas HAM Manager Nasution mengaku, bahwa pada tahun 1980-an ada stigma baru yang menyimpulkan bahwa ada gerakan-gerakan makar dan anti pancasila seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Diberitakan bahwa ada gerakan-gerakan makar yang disertai dengan penangkapan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap makar.

“Terakhir adalah ustadz Al-Khatthath bahkan ada adek-adek kita yang belum selesai skripsi pun ikut-ikutan ditangkap dengan alasan makar. Ini adalah nutrisi baru untuk Komnas HAM, sehingga ke depan Komnas HAM lebih bisa menanggapi persoalan-persoalan yg akan datang,” ungkapnya.

Dijelaskan Manager Nasution, bagi Komnas HAM ini merupakan gizi baru, sehingga diharapkan masyarakat tidak pernah bosan untuk melaporkan perlakuan diskriminatif. Sebab itu merupakan hak bagi setiap warga negara.

“Jangan bosan, itu hak publik. Kita akan pikirkan cara advokasi lembaga ini,” tandasnya (fn).

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow