Beda Saracen dan Muslim Cyber Army

SHARE:

Beda Saracen dan Muslim Cyber Army
Demi Tegaknya Hukum, Kapolda Sumut Pecat 17 Anggotanya yang Terlibat Pidana
Tidak Takut Teror, Novel Baswedan Kembali Bertugas di KPK
HTI Siap Gugat Perppu Ormas

JAKARTA, SUARADEWAN. com – Pakar Digital Forensik Ruby Alamsyah mengungkap, meskipun sama-sama bergerilya di media sosial, ada perbedaan yang signifikan antara kelompok penyebar hoaks Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA).

Ruby mengatakan keberhasilan Saracen yang mampu menggiring opini pada kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu menginspirasi kelompok MCA untuk melakukan hal yang sama namun dengan cara yang berbeda. “(MCA) mencoba menciptakan lebih banyak lagi hoaks yang menurut mereka adalah opini yang benar,” ujar Ruby, Senin (5/3).

Ruby melihat perbedaan Saracen dan MCA ada pada produksi hoaks. Saracen hanya memproduksi hoaks maupun ujaran kebencian berdasarkan afiliasi keuntungan, sementara MCA menggarap hoaks dengan beragam latar belakang.

Saracen, kata Ruby, diberikan sejumlah dana oleh pemesan lalu memproduksi berita hoaks. Sementara MCA hanya komunitas biasa yang memiliki visi dan misi spesifik dengan mengandalkan keahlian dari masing-masing ‘divisi’.  “Mereka (MCA) mengandalkan keahlian timnya untuk diberdayakan sebagai kelompok penyebar hoaks, tapi bukan berdasarkan ekonomi,” katanya.

Meski pembagian tugas dalam kelompok MCA disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota tim, Ruby menyebut kemampuan Saracen tidak lebih ahli ketimbang hacker sesungguhnya. Berdasarkan data yang didapatkan Ruby melalui penjelasan Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, kemampuan tim MCA baik secara IT maupun hacking masih pada level mudah.

“Kita belum melihat level advance, terbukti dari mudahnya Polri menangkap mereka. Jadi, secara tidak langsung MCA itu hanya sekelompok atau komunitas yang memiliki ideologi sama untuk menggiring ke arah opini yang mereka ciptakan,” ungkap Ruby.

Ruby menambahkan Saracen tampak seperti kelompok ‘jurnalis’ kecil yang mencari pemesan untuk dibuatkan berita hoaks sesuai dengan motif ekonomi, sedangkan MCA memiliki ideologi tertentu yang ingin diperlihatkan namun mencampuradukkannya dengan data palsu dan memutarbalikkan fakta.

“Kelompok ini yang menurut saya paling ahli, banyak sekali pasal dalam UU ITE yang dilanggar termasuk menghancurkan dan memblokir akun milik lawan. Ini sudah bukan level orang IT biasa karena sudah melakukan perusakan, melanggar privasi, dan melakukan tindakan kriminal,” pungkasnya. (af )

COMMENTS