WP-MagOne-728x90

Angka Kemiskinan Di Kawasan Timur Indonesia Masih Tinggi

SHARE:

Angka Kemiskinan Di Kawasan Timur Indonesia Masih Tinggi
Ilustrasi Penduduk Miskin di Gorontalo
Kesenjangan Sosial Jadi Celah Tumbuhnya Kelompok Radikal
Mensos Khofifah: Program Bansos Mampu Atasi Kemiskinan

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ketimpangan yang tinggi antar-pulau masih menjadi Pekerjaan Rumah yang besar bagi pemerintah. Sebab, angka kemiskinan masih didominasi oleh penduduk di kawasan timur Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto, mengungkapkan hal ini terlihat dari persentase penduduk miskin Indonesia Maret 2017 yang didominasi oleh Indonesia bagian timur. Adapun persentase penduduk miskin tertinggi itu ada di Maluku dan Papua.

“Ketimpangan tinggi antar pulau dan ini menjadi PR besar. Persentase penduduk miskin terkecil menurut pulau ada di Kalimantan sebesar 6,25 persen dan tertinggi di Pulau Maluku dan Papua 21,45 persen,” kata Suhariyanto di kantornya, Senin 17 Juli 2017.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin RI berdasarkan survei Maret 2017 mencapai 27,77 juta orang atau turun sebesar 234,19 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 28,01 juta orang.

Namun, angka tersebut berbeda jika melihat jumlah penduduk miskin berdasarkan daerahnya. Di mana angka penduduk miskin di perkotaan pada Maret 2017 justru tercatat bertambah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: 4 Orang Terkaya di Indonesia Setara dengan 100 Juta Penduduk Miskin

Dengan demikian, secara presentase, penduduk miskin di Indonesia pada periode tersebut turun menjadi sebesar 10,64 persen dibandingkan dengan angka per Maret 2016 yang sebesar 10,86 persen.

Jika dilihat secara jumlah, penduduk miskin RI tertinggi ada di pulau Jawa yang sebesar 14,79 juta orang dan terendah ada di Kalimantan yang sebesar 0,99 juta orang. “Kalau soal jumlah, kita maklum konsentrasi penduduk miskin ada di Jawa karena Jawa ini sudah padat sekali,” ujar dia.

Suhariyanto menjelaskan, komposisi garis kemiskinan baik perkotaan atau pun pedesaan berada pada angka pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp 374.478. Yang termasuk penduduk miskin, adalah penduduk dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan tersebut.

Data BPS mencatat angka kemiskinan perkotaan pada Maret 2017 mencapai 10,67 juta orang atau sebesar 7,72 persen. Angka kemiskinan itu bertambah sebanyak 330 ribu orang dibandingkan Maret 2016 yang mencapai 10,34 juta orang.

Baca juga: Kenapa Orang Kaya Makin Kaya Raya?

Sedangkan, angka kemiskinan di pedesaan pada Maret 2017 tercatat mengalami penurunan. Dimana pada Maret 2017 mencapai 17,10 juta orang atau turun sebesar 570 ribu orang dibanding Maret 2016 yang sebesar 17,67 juta orang.

“Dan angka (pengeluaran per kapita) ini 73 persen disumbang oleh makanan. Maka dari itu, kita harus menjaga supaya harga bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk miskin harus stabil. Kalau enggak akan berpengaruh terhadap peningkatan penduduk miskin,” ujar dia.

Terutama, lanjut dia, komoditas yang paling berpengaruh adalah beras dan rokok. “Komoditas yang paling berpengaruh adalah beras yang pengaruhnya untuk desa 26,46 persen dan kota 20,11 persen. Rokok 11,53 persen untuk desa dan 11,79 persen untuk kota,” ujar Suhariyanto. (ren)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow