WP-MagOne-728x90

Aktif Kampanyekan Pemusnahan Senjata Nuklir, ICAN Diganjar Nobel Perdamaian 2017

SHARE:

Aktif Kampanyekan Pemusnahan Senjata Nuklir, ICAN Diganjar Nobel Perdamaian 2017
Direktur Kelompok Kampanye Internasional untuk Pemusnahan Senjata Nuklir (ICAN), Beatrice Fihn
Bijak! Jokowi Beri Ruang bagi Mereka yang Mau Gugat Perppu Ormas
Kapolri : Kemajuan Negara berawal dari SDM

OSLO, SUARADEWAN.com – Kelompok Kampanye Internasional untuk Pemusnahan Senjata Nuklir (ICAN) meraih Nobel Perdamaian untuk tahun ini. ICAN dianggap berperan besar dalam menyukseskan perjanjian anti senjata nuklir global.

ICAN menyebut diri sebagai koalisi kelompok akar rumput non-pemerintah yang tersebar di lebih dari 100 negara. Koalisi ini berawal di Australia dan mulai diluncurkan secara resmi di Wina, Australia tahun 2007 lalu.

“Kita tinggal di dunia dengan risiko senjata nuklir digunakan jauh lebih besar daripada sebelumnya, untuk jangka waktu lama,” ucap Ketua Komisi Nobel Norwegia, Berit Reiss-Andersen, dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters, Jumat (6/10/2017).

Reiss-Andersen dalam pernyataannya menyebut Nobel Perdamaian 2017 ini menjadi pengakuan terhadap kinerja kelompok ini. “Untuk mengarahkan perhatian pada konsekuensi kemanusiaan yang menghancurkan dari setiap penggunaan senjata nuklir dan atas upaya-upaya inovatif dalam mencapai pelarangan senjata semacam itu berdasarkan perjanjian,” ujarnya.

Baca juga:

Dia merujuk pada Perjanjian PBB untuk Pelarangan Senjata Nuklir yang disepakati tahun ini. Pada Juli lalu, sebanyak 122 negara di dunia sepakat mengadopsi perjanjian itu. Meskipun negara-negara yang memiliki senjata nuklir, seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, China, Inggris, Prancis, Israel, India, Pakistan dan Korea Utara (Korut) memilih tak ikut serta.

Pemberian Nobel Perdamaian untuk ICAN ini dimaksudkan untuk meningkatkan praktik pelucutan senjata, di tengah ketegangan antara AS dan Korut, juga ketidakjelasan nasib kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara Barat yang tercapai pada tahun 2015 lalu.

Menanggapi Nobel ini, Direktur ICAN Beatrice Fihn mengaku dirinya merasa sangat terhormat. “Ini menjadi kehormatan besar untuk dianugerahi Nobel Perdamaian tahun 2017 sebagai pengakuan atas peran kami dalam mencapai Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir,” tuturnya.

“Penghargaan ini menyoroti jalan terang yang diberikan perjanjian pelarangan terhadap dunia bebas senjata nuklir. Sebelum terlalu terlambat, kita harus mengambil jalan itu,” imbuh Fihn.

Lebih lanjut, Fihn memiliki pesan khusus untuk Presiden AS, Donald Trump, dan pemimpin Korut, Kim Jong-Un. “Senjata nuklir adalah ilegal. Mengancam untuk menggunakan senjata nuklir adalah ilegal. Memiliki senjata nuklir, mengembangkan senjata nuklir, adalah ilegal dan perlu dihentikan,” tandasnya. (DET)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow