21 Mei 1998, 19 Tahun Soeharto Lengser Setelah 32 Tahun Berkuasa

SHARE:

21 Mei 1998, 19 Tahun Soeharto Lengser Setelah 32 Tahun Berkuasa
Kamis, 21 Mei 19 tahun lalu, setelah mengalami tekanan dari mahasiswa dan rakyat akhirnya Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun mengundurkan diri
Berikut 8 Fakta Presiden Soeharto Dalam The Untold Stories
HTI Siap Gugat Perppu Ormas

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Tanggal 21 Mei 1998 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tepat hari ini, 19 tahun lalu, Soeharto yang telah memimpin 32 tahun menyatakan diri lengser sebagai Presiden Indonesia.

Penguasa Orde Baru itu turun dari tampuk kekuasaan usai rentetan demo mahasiswa dan kerusuhan di sejumlah wilayah Tanah Air. Sejak itu, Indonesia memulai lembaran baru, Era Reformasi.

Selain Istana Negara, Soeharto kerap menjadikan rumahnya di Jalan Cendana 6-8 Menteng, Jakarta Pusat sebagai poros pengambil kebijakan. Rumah Cendana bahkan menjadi saksi detik-detik lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Pada Senin, 18 Mei 1998, Soeharto memanggil Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur. Di rumah Jalan Cendana, Menteng, itu, Soeharto meminta Nurcholish untuk menceritakan situasi di luar.

Seperti dikutip dalam “Api Islam Nurcholish Madjid” karya Ahmad Gaus AF, cendekiawan itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengisahkan secara rinci aksi-aksi reformasi yang diwarnai kerusuhan di Jakarta ketika Soeharto sedang di Mesir pada 11-15 Mei. Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursyid ikut hadir dalam pertemuan.

Mahasiswa duduki gedung DPR saat reformasi 1998 (Via: votreesprit.wordpress.com)

Hari ini, kata Cak Nur itu, elemen-elemen gerakan reformasi menduduki gedung DPR/MPR.

“Karena itu saya datang ke sini tidak dengan pertimbangan bulan atau hari, pertimbangan per jam juga tidak, malah per menit juga tidak. Saya datang ke sini dengan pertimbangan detik per detik.”

Soeharto mendengarkan dengan saksama. Lalu ia bertanya, “Reformasi itu apa, sih, Cak Nur?”

Nurcholish segera menjawab, “Reformasi itu artinya Pak Harto turun.”

Mendengar itu, Soeharto tertawa sambil mengangkat tangan. Ia menyatakan, “Saya dari dulu memang ingin turun. Tetapi soalnya adalah, oleh Harmoko dan teman-temannya di MPR, saya ini diapusi (ditipu), dibohongi, bahwa rakyat masih membutuhkan saya, malah didorong-dorong, dipaksa-paksa untuk naik lagi.”

Soeharto kemudian mengatakan akan segera mengumumkan pengunduran diri.

“Kapan?” tanya Nurcholish.

“Besok,” jawab Soeharto.

“Lho, kok cepat sekali?”

“Lho, katanya tadi hitungannya detik.”

Nurcholish tertawa karena tidak menduga jawaban seperti itu.

Namun, sebelum mengumumkan pengunduran diri, Soeharto ingin bertemu tokoh-tokoh masyarakat. Saadillah lalu mendaftar beberapa nama. Semua tokoh Islam. Kemudian ia memberikannya kepada Soeharto.

“Karena Mas Saadillah ini seorang ulama, yang ada dalam benaknya hanya ulama, yang kemudian diprotes oleh orang non-Muslim, kok hanya orang Islam yang diundang,” tutur Nurcholish.

Ada sembilan nama yang disodorkan Saadillah kepada Soeharto untuk diundang, yakni Abdurrahman Wahid, Ahmad Bagja, Ali Yafie, Anwar Harjono, Emha Ainun Nadjib, Ilyas Ruchiyat, Ma’ruf Amin, Malik Fadjar, Sutrisno Muchdam, dan Nurcholish sendiri.

Pertemuan dijadwalkan pada Selasa, 19 Mei 1998 pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka, Jakarta.

Keesokan harinya, dalam pertemuan sekitar 2,5 jam di Istana Merdeka, para tokoh yang diundang membeberkan situasi terakhir. Soeharto menyatakan bersedia lengser, bahkan sudah menyiapkan draf naskah pengunduran diri. 

Pertemuan berlangsung cukup alot. Sebab, Soeharto punya ide sendiri, terutama soal pembentukan Dewan Reformasi. Para tokoh itu tak setuju.

Pada pertemuan tersebut, Yusril Ihza Mahendra diajak Saadillah untuk hadir. Ia dianggap perlu dimintai pertimbangan dari kacamata hukum tata negara. Yusril juga sempat mengusulkan beberapa perubahan redaksional pada naskah pengunduran diri Soeharto.

Di luar Istana, demo kian masif. Ribuan mahasiswa dan kalangan pro-reformasi lainnya kembali mendatangi gedung DPR/MPR. Mereka pun menginap di sana.

Dua hari kemudian atau 21 Mei, Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Indonesia pun memasuki babak baru.

Selain kisah pertemuan Soeharto dengan Cak Nur, rumah Cendana juga jadi saksi ‘perjuangan’ Yusril Ihza Mahendra menulis surat lengsernya Soeharto.

Dikutip dari Liputan 6 Petang SCTV, Sabtu, 21 Mei 2016, detik-detik jelang jatuhnya Soeharto, pada 20 Mei 1998, Yusril menginap di Cendana karena Bapak Pembangunan itu membutuhkan pendapatnya.

Malam itu, ketegangan menyelimuti rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Soeharto gelisah pada malam menjelang kejatuhannya.

“Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti,” kata Yusril menirukan ucapan Soeharto kepadanya ketika itu.

Yusril dan rekan-rekannya pun menggelar rapat malam itu untuk membuat skenario pengunduran diri Soeharto. Yusril sendiri yang menulis naskah pidato lengsernya Soeharto. (Lip)

25000onon

COMMENTS

Ikuti kami di media sosial

Please Like and Follow